Format disk
Apa yang terjadi dalam sekejap? Dalam sekejap semua menghilang begitu saja.
Haruskah aku pergi meski cinta tak akan pergi? Aku akan kemana jika harus melupakanmu?Harus berapa jarak yang ku ambil agar aku bisa tenang tanpa mu?
Ya, padahal ini hanyalah kata-kata, ini hanyalah kumpulan percakapan surat dari masa lalu ku. Tapi kenapa setiap aku mengulang membaca nya, itu akan menjadi hiburan tersendiri bagiku. Bagiku yang sudah lemah terhadap perlakuanmu.
Untukku membaca history dengan wallpaper di pesan ini ada wajah kita berdua membuat ku seakan bertemu denganmu, melintasi ruang waktu semua terurut secara runtun. Tak ada yang hilang dari memori ini. Padahal kamu sudah mematahkan pusat memorinya. Yaitu hati ku. Apa karna data di memori ini sangat besar hingga sampai sekarang aku masih bisa membolak-balik isi data itu. Aku hanya tak bisa mengedit atau membuat entri baru di memori itu.
Malam yang hening hingga terdengar butiran air jatuh. Tidak itu bukan hujan, melainkan air mataku. Aku mengatur hentakan teriakan luapan emosi dan tangis ku ini agar tak terdengar meski air mata ini terus mengalir. Biasanya aku menitihkan nya sambil tersenyum geli melihat penggalan gombalan, perhatian dan kegilaan kita. Tapi malam ini earphone yang kupasang hanya memutar lagu killing me inside-jangan pergi yang pernah kau tunjukkan kepadaku.
"Katakan hatiku. Padahal aku sudah menuruti keinginan mu. Tapi kenapa ada kesedihan, apakah ini akan berakhir?"
Satu kisah dua arah ucapan yang sunyi, setiap luka yang terkuak mengatakan sesuatu kepadaku. Rasa sakit berkata ada yang dikatakan padaku. Tak ada didekatku tapi ada sebuah perasaan kehidupanku yang masih rumit, masih memiliki harapan dalam hutan penuh kenangan, hati yang penuh duri.
Semakin menyukai seseorang aku semakin lelah. Banyak orang semakin mencintai seseorang maka akan belajar cara mengurangi rasa cinta itu. Bahkan aku tak memperdulikan lagi alasan kau pergi, aku tak akan mengungkit nya lagi. Aku berjanji. Apa kau mempercayai ku?
Kupikir masih ada secercah harapan, sepenggal harapan, seonggok keinginan apapun nama nya itu aku tak bisa mengatakannya. Apakah sekarang kau sudah sangat nyaman dengan dirinya yang mampu mengisi setiap hari mu? Yang bisa melengkapi kekurangan yang ada pada diriku? Jika benar maka kupersilahkan kau untuk pergi.
Apa pelukanku terlalu erat hingga kau kesakitan dan memutuskan pergi? Apa aku bukanlah yang dulu? Atau kau lah yang sudah berubah?
Kupikir kemarin perkataanmu bersungguh. Dan memang bukan hanya perkataanmu tapi juga gerak-gerikmu, gaya bicaramu. Sungguh bius apa yang kau pakaikan kepadaku hingga aku bisa tertipu untuk kedua kali. Lalu apa arti pelukan yang kau minta ketika kau lelah? Apa kau meminta peluk dari ku karena dia sedang tak ada untuk dirimu? Apa panggilan sayang itu hanya sekedar panggilan biasa ketika kau bosan dengan dirinya?
Kupikir kita benar-benar akan berpisah, menjauh, menghilang. Tapi nyatanya kemarin perlakuanmu membuat ku semakin sulit untuk melupakanmu. Bahkan hanya tak mengintip lewat celah pintu kelas mu itu semakin sulit. Bahkan ketika kau lewat dengan dirinya aku harus berusaha menahan nafas agar air itu tidak jatuh. Dan parahnya setiap temanku menyebut nama mu, seolah kau masih milikku.
"Sungguh gila dunia ini, aku mempercayai yang belum terbukti dan mengelakkan yang sudah ada. Mencintai mawar merah sedang duri nya menancap di jari. Memeluk tiang yang tak berujung dan terus berjalan meski hanya bayangmu yang menyentuhku."
Apa kau akan senang bila kubilang kau lah motivator ku? Ah ya lebih baik kuceritakan semua kepada cahaya yang keluar dari layar 10" ini. Ya kubilang kau adalah penyemangatku. Disaat aku belum belajar untuk ulangan Geografi, kau dengan tergesa menyebutkan soal-soal yang akan diulangkan. Hasilnya aku mampu walau aku hanya mendengar jawaban dari mu.
Ketika aku mengisi Try Out biasanya aku akan terganggu dengan suara bising, tapi ini suara mu. Suara yang sepertinya akan menjadi suaramu yang terakhir untuk bisa kudengar lewat sebatang logam panjang ini. Dan kau tau? Aku mampu mendapat peringkat 81 dari 889 peserta. Dan masih banyak cerita, ketika aku lari. Ya aku dengan aneh memegang gelang putus itu.Seolah aku sedang berlari bersama mu.
Kau tau aku sangat tak percaya ketika kau kembali mengisi hari-hari ku. Bahkan menenangkan ku ketika aku banyak masalah. Ketika kepercayaan itu sedang kembali, kenapa? Kenapa kau pergi lagi? Apa salahku hingga kau pergi (lagi)? Aku minta tolong sebutkan. Jangan pergi dengan sepihak. Karena hati ini sudah hampir tersusun rapi lagi, tapi tak perlu repot untuk menghancurkan nya. Aku akan menjaga nya lagi hingga itu pantas untuk disempurnakan.
Disini aku melihat history di BBM yang belum sempat ku screen, tapi justru kontak mu yang hilang. Aku ingat ketika aku di jambi kau meminta nya lagi dan kau berjanji untuk tidak mendelete kontak ku. Tapi nyatanya? Sudah berapa kebohongan yang kau lakukan sedang yang yang kau katakan ada keterbalikan. Kebiasaan aneh memang jika setiap fajar aku membuka lagi history itu untuk sesaat hanya sebagai pengingat kau ada untuk ku, kau penyemangatku. Hah aneh memang.
"Mari kita saling meniadakan, lalu melupakan. Biar Tuhan yang menentukan. Tugas ku hanya selalu ada ketika kau butuh dan selalu mendoakan kebahagiaan mu. "
Jika memang itu mau mu untuk pergi (lagi) izinkan aku untuk melangkah agar bayangku tak lagi menganggumu, agar ketika aku menyerukan nama mu tak lagi membuat telinga berdenging. Agar kau nyaman dengan dirinya masa lalu yang menjadi lembar baru mu. Sekarang kau bebas untuk lewat didepan ku tanpa menoleh pun tak apa, kau bebas untuk melakukan apapun.
Apa kau senang? Kuyakin jawaban nya adalah ya.
Memang aku yang salah kenapa tak pernah sadar. Sadar jika cinta ini hanya sementara, tapi rasa ini memang tak pernah tau kapan habisnya. Sadar bahwa aku terlalu memaksa secercah cahaya itu untuk menjadi cahaya besar. Sadar bahwa aku tak lebih hanyalah pelampiasan belaka.
Terima kasih telah menjadikan ku pelampiasan mu. Terima kasih telah membuat ku sadar dari hidup yang telah ku pause kan demi dirimu dulu sekarang akan ku play kan lagi. Akan ku ikuti semua alur cerita yang telah dituliskan Allah di Lauh Mahfudz nya. Salahku memang yang terlalu perasa, sedang kamu melakukan dengan biasa.
Jangan kembali lagi jika hanya untuk menyakiti, jangan pergi jika hanya keputusanmu. Hidup bukan hanya untuk datang dan pergi tapi bagaimana menjalani agar ketika datang kita berusaha semampunya agar tak pergi. Maaf aku sudah melewati batas sebagai "teman mu."
"Gugur bunga musim semi sudah jatuh karna hujan semalam. Tapi tak dengan perasaan ku. Ini hanya butuh waktu penyembuhan, jika mati maka akan kutumbuhkan lagi."
Haruskah aku pergi meski cinta tak akan pergi? Aku akan kemana jika harus melupakanmu?Harus berapa jarak yang ku ambil agar aku bisa tenang tanpa mu?
Ya, padahal ini hanyalah kata-kata, ini hanyalah kumpulan percakapan surat dari masa lalu ku. Tapi kenapa setiap aku mengulang membaca nya, itu akan menjadi hiburan tersendiri bagiku. Bagiku yang sudah lemah terhadap perlakuanmu.
Untukku membaca history dengan wallpaper di pesan ini ada wajah kita berdua membuat ku seakan bertemu denganmu, melintasi ruang waktu semua terurut secara runtun. Tak ada yang hilang dari memori ini. Padahal kamu sudah mematahkan pusat memorinya. Yaitu hati ku. Apa karna data di memori ini sangat besar hingga sampai sekarang aku masih bisa membolak-balik isi data itu. Aku hanya tak bisa mengedit atau membuat entri baru di memori itu.
Malam yang hening hingga terdengar butiran air jatuh. Tidak itu bukan hujan, melainkan air mataku. Aku mengatur hentakan teriakan luapan emosi dan tangis ku ini agar tak terdengar meski air mata ini terus mengalir. Biasanya aku menitihkan nya sambil tersenyum geli melihat penggalan gombalan, perhatian dan kegilaan kita. Tapi malam ini earphone yang kupasang hanya memutar lagu killing me inside-jangan pergi yang pernah kau tunjukkan kepadaku.
"Katakan hatiku. Padahal aku sudah menuruti keinginan mu. Tapi kenapa ada kesedihan, apakah ini akan berakhir?"
Satu kisah dua arah ucapan yang sunyi, setiap luka yang terkuak mengatakan sesuatu kepadaku. Rasa sakit berkata ada yang dikatakan padaku. Tak ada didekatku tapi ada sebuah perasaan kehidupanku yang masih rumit, masih memiliki harapan dalam hutan penuh kenangan, hati yang penuh duri.
Semakin menyukai seseorang aku semakin lelah. Banyak orang semakin mencintai seseorang maka akan belajar cara mengurangi rasa cinta itu. Bahkan aku tak memperdulikan lagi alasan kau pergi, aku tak akan mengungkit nya lagi. Aku berjanji. Apa kau mempercayai ku?
Kupikir masih ada secercah harapan, sepenggal harapan, seonggok keinginan apapun nama nya itu aku tak bisa mengatakannya. Apakah sekarang kau sudah sangat nyaman dengan dirinya yang mampu mengisi setiap hari mu? Yang bisa melengkapi kekurangan yang ada pada diriku? Jika benar maka kupersilahkan kau untuk pergi.
Apa pelukanku terlalu erat hingga kau kesakitan dan memutuskan pergi? Apa aku bukanlah yang dulu? Atau kau lah yang sudah berubah?
Kupikir kemarin perkataanmu bersungguh. Dan memang bukan hanya perkataanmu tapi juga gerak-gerikmu, gaya bicaramu. Sungguh bius apa yang kau pakaikan kepadaku hingga aku bisa tertipu untuk kedua kali. Lalu apa arti pelukan yang kau minta ketika kau lelah? Apa kau meminta peluk dari ku karena dia sedang tak ada untuk dirimu? Apa panggilan sayang itu hanya sekedar panggilan biasa ketika kau bosan dengan dirinya?
Kupikir kita benar-benar akan berpisah, menjauh, menghilang. Tapi nyatanya kemarin perlakuanmu membuat ku semakin sulit untuk melupakanmu. Bahkan hanya tak mengintip lewat celah pintu kelas mu itu semakin sulit. Bahkan ketika kau lewat dengan dirinya aku harus berusaha menahan nafas agar air itu tidak jatuh. Dan parahnya setiap temanku menyebut nama mu, seolah kau masih milikku.
"Sungguh gila dunia ini, aku mempercayai yang belum terbukti dan mengelakkan yang sudah ada. Mencintai mawar merah sedang duri nya menancap di jari. Memeluk tiang yang tak berujung dan terus berjalan meski hanya bayangmu yang menyentuhku."
Apa kau akan senang bila kubilang kau lah motivator ku? Ah ya lebih baik kuceritakan semua kepada cahaya yang keluar dari layar 10" ini. Ya kubilang kau adalah penyemangatku. Disaat aku belum belajar untuk ulangan Geografi, kau dengan tergesa menyebutkan soal-soal yang akan diulangkan. Hasilnya aku mampu walau aku hanya mendengar jawaban dari mu.
Ketika aku mengisi Try Out biasanya aku akan terganggu dengan suara bising, tapi ini suara mu. Suara yang sepertinya akan menjadi suaramu yang terakhir untuk bisa kudengar lewat sebatang logam panjang ini. Dan kau tau? Aku mampu mendapat peringkat 81 dari 889 peserta. Dan masih banyak cerita, ketika aku lari. Ya aku dengan aneh memegang gelang putus itu.Seolah aku sedang berlari bersama mu.
Kau tau aku sangat tak percaya ketika kau kembali mengisi hari-hari ku. Bahkan menenangkan ku ketika aku banyak masalah. Ketika kepercayaan itu sedang kembali, kenapa? Kenapa kau pergi lagi? Apa salahku hingga kau pergi (lagi)? Aku minta tolong sebutkan. Jangan pergi dengan sepihak. Karena hati ini sudah hampir tersusun rapi lagi, tapi tak perlu repot untuk menghancurkan nya. Aku akan menjaga nya lagi hingga itu pantas untuk disempurnakan.
Disini aku melihat history di BBM yang belum sempat ku screen, tapi justru kontak mu yang hilang. Aku ingat ketika aku di jambi kau meminta nya lagi dan kau berjanji untuk tidak mendelete kontak ku. Tapi nyatanya? Sudah berapa kebohongan yang kau lakukan sedang yang yang kau katakan ada keterbalikan. Kebiasaan aneh memang jika setiap fajar aku membuka lagi history itu untuk sesaat hanya sebagai pengingat kau ada untuk ku, kau penyemangatku. Hah aneh memang.
"Mari kita saling meniadakan, lalu melupakan. Biar Tuhan yang menentukan. Tugas ku hanya selalu ada ketika kau butuh dan selalu mendoakan kebahagiaan mu. "
Jika memang itu mau mu untuk pergi (lagi) izinkan aku untuk melangkah agar bayangku tak lagi menganggumu, agar ketika aku menyerukan nama mu tak lagi membuat telinga berdenging. Agar kau nyaman dengan dirinya masa lalu yang menjadi lembar baru mu. Sekarang kau bebas untuk lewat didepan ku tanpa menoleh pun tak apa, kau bebas untuk melakukan apapun.
Apa kau senang? Kuyakin jawaban nya adalah ya.
Memang aku yang salah kenapa tak pernah sadar. Sadar jika cinta ini hanya sementara, tapi rasa ini memang tak pernah tau kapan habisnya. Sadar bahwa aku terlalu memaksa secercah cahaya itu untuk menjadi cahaya besar. Sadar bahwa aku tak lebih hanyalah pelampiasan belaka.
Terima kasih telah menjadikan ku pelampiasan mu. Terima kasih telah membuat ku sadar dari hidup yang telah ku pause kan demi dirimu dulu sekarang akan ku play kan lagi. Akan ku ikuti semua alur cerita yang telah dituliskan Allah di Lauh Mahfudz nya. Salahku memang yang terlalu perasa, sedang kamu melakukan dengan biasa.
Jangan kembali lagi jika hanya untuk menyakiti, jangan pergi jika hanya keputusanmu. Hidup bukan hanya untuk datang dan pergi tapi bagaimana menjalani agar ketika datang kita berusaha semampunya agar tak pergi. Maaf aku sudah melewati batas sebagai "teman mu."
"Gugur bunga musim semi sudah jatuh karna hujan semalam. Tapi tak dengan perasaan ku. Ini hanya butuh waktu penyembuhan, jika mati maka akan kutumbuhkan lagi."
Dari orang
yang meminta ajari melupakanmu.....
Sedeh aku baconyo😢😢😢
BalasHapus