Arab Gila
Kami adalah
insan genZ yang sedang mencari jati diri melalui aplikasi lebah, sebut saja bumble.
Match dengannya di bulan agustus akhir, dan memutuskan untuk bertemu di tanggal
6 September 2025. Hari itu, kami berdua sama-sama iseng sehingga berujung di satu
cafe “Rumah Aba.”
“Aku lagi
di demang nih, main billiard. Aku jemput ke rumah kamu ya. Rumah kamu di KM 12
kan. Coba shareloc,” dia berkata kepadaku di DM Instagram.
Aku
langsung share location kepadanya, dan dalam 1 jam dia sudah tiba didepan
rumahku. Baju ku saat itu abu-abu tua, dengan jeans. Sedangkan dia memakai
jaket jeans abu-abu muda. Aku menatapnya salting, saat dia memberikan helm
putih yang katanya kepunyaan adik perempuannya.
Kami
bercakap sambil diiringi semilir angin sore, tiba-tiba kami sudah sampai di
lokasi. Kami duduk berhadapan, lantas dia langsung menuju ke meja kasir untuk
memesan beberapa cemilan dan kopi pastinya. Chat DM IG muncul, dia memfotokan
menu-menu nya. Tak lama dari situ ia datang membawa berbagai cemilan beserta
kopi.
Aku
menganggumi caranya berfikir, caranya berbicara. Aku menatap dalam-dalam,
membayangkan sosok ini akan menjadi imam ku di kemudian hari. Dia lulusan
teknik mesin 2019 PolSri, story yang ia suguhkan sungguh sangat nikmat, pun
begitu pula cara ia berinteraksi dan menanggapi cerita yang aku lontarkan
balik. Tidak terasa sudah 4 jam lebih kami mengobrol. Ia membuka ponsel nya,
dan menerima telepon bahwa ada acara maulid di rumah kakeknya hari itu. Kami
buru-buru menutup percakapan di meja tersebut dan memilih untuk mengobrol di
motor kembali.
Beberapa
hari setelah nya kami makin intens, baik percakapan di chat ataupun via call. Ia
masih bersikeras ingin meminta nomor whatsapp ku, namun kubilang nanti saja.
Tapi aku juga merasakan niat yang tulus darinya. Akhirnya kuberikanlah nomor ku
dengan menyisakan satu angka di akhiran nya yang harus ia tebak sendiri. Aku
memberikan clue kepadanya.
“itu bulan
lahir ku loh,” dia menebak 3 dan 7. Dan benar saja angka 7 yang ia lontarkan
itu adalah angka yang benar.
Satu minggu
pertama, ia langsung memberikan isyarat untuk melangkah ke arah serius. Belum
langsung melamar, tapi ia bilang “aku belom ada rencana menikah dalam 1-2 tahun
ini karna masih fokus karir, tapi bisa kupastikan kamu calon ku.” Setelah kalimat-kalimat
magic itu terucap, obrolan kami makin mengalir, rencana-rencana tentang
pernikahan, tentang rencana tabungan itu mulai kami bahas.
Setiap kali
aku mulai bertingkah (selayaknya wanita yg LDR), dia menenangkan. Setiap pagi
kabar darinya tak luput, terutama PAP nya yang selalu menjadi penyemangat
hari-hari ku. Pujian ‘cantik ku’ atau ‘my honey’ selalu mengisi chat di
whatsapp ku. Reels instagram yang mulai penuh oleh hal-hal romantis namun tetap
di jalur comedy. Cara nya menenangkan isi pikiran ku, melipur lara ku, beserta
janji-janji nya. Ah, sungguh hal yang sangat indah.
“Nanti
tanggal 17 aku pulang ke Palembang, kita ketemuan dari sore ya. Temenin aku
potong rambut, terus 18 nya kita jalan dari pagi ya seng” dia menyapaikan hal
itu ketika kami sedang sleepcall. Otakku langsung berfikir untuk menyiapkan
yang terbaik, dari outfit ku, planning mau kemana saja, hingga gift yang mau
aku berikan kepadanya. Semua sudah terangkai indah di bayanganku.
“Love u
more even before u say it sayangku,” uhh hatiku yang mungil ini luluh lantah
dengan kata-kata seperti itu. Pada hari yang panas pun dia tiba-tiba berkata “Semoga
di kesulitan dan kemudahanku selalu ada kamu.”
Ada juga masa aku berceloteh “ah, kalo ada yang
lamar aku duluan, aku bakal terima sih seng.” Lantas ia menjawab dengan lawakan
“Boleh, nanti anak kamu aku jitak ya kalo ketemu,” kami tertawa bersama.
Ketika aku dalam keraguan dan bertanya aku ini akan jadi apa dimasa depan mu. Dia menjawab hari itu dengan lantang 'calon masa depanku''.
Ada juga momen
aku bertanya “kalo aku meninggal duluan nanti, kamu bakal nyari istri lagi atau
nyari pembantu aja?”
Lagi-lagi
jawabannya membuat ku termenung “sebaik-baiknya itu adalah suami yang lebih
dulu dibanding istrinya. Kalaupun kamu duluan, anak-anak sama siapa. Masa
mereka kehilangan sosok ibu, apalagi kayak kamu. Aku bangunin kamu pokoknya.”
Selama sebulan terakhir, kalo kata orang sekarang ‘love bombing’ nya terasa sekali. Kadang aku berusaha jaga jarak agar tidak terlalu intens, namun apalah daya LDR ini memang berat sekali. Sampe pada puncaknya dia bilang kalo dia punya kebiasaan buruk; mabuk. Aku diam. “Sebenarnya aku pun bukan orang yg suci banget, tapi aku ga pernah nyentuh minuman. Tapi kamu mau kan lepas itu minum kalo udah nikah sama aku?”
“Kita coba
untuk kurangi ya, aku bakal terimakasih banget kalo beneran bisa lepas dari
minuman ini. Tapi nanti tanggal 18 nanti, malamnya aku ada mau party dan pasti
mabuk sama temen-temenku di hotel.” Aku terdiam. Lagi-lagi hati ku seolah
bergejolak, apakah aku bisa mentolerir ini. Aku membahas hal ini ke beberapa
temanku, dan beberapa dari mereka menyarankan untuk menerima dulu, sambil
berproses. Baiklah aku tekad kan untuk menerima kurangnya dia.
Lusa nya,
dia bercerita bahwa kakek nya meninggal, dan dia membuat story di whatsapp
bahwa kakek nya adalah tokoh penting di salah satu komunitas “syiah” di
Palembang. Aku kaget untuk kedua kalinya. Ragu itu muncul kembali. Cuma aku
tahan , biarlah nanti kalo ketemu akan ku bahas dengannya.
Tapi,
semakin lama dia makin sering menyepelekan perihal kabar. Alasan lelah nya
menjadi berulang kali di lontarkan nya. Aku sudah berkali pula bilang bahwa aku
kangen dia yang dulu, aku kangen ketika kami masih sibuk untuk saling bertukar
kabar. Aku rindu. Ujarku.
Kesepelean yang terlalu sering terabaikan, sabar ku mulai
diambang habis, dia pun. Kami saling ego, namun di akhir keributan aku bilang “
semoga jawaban istikharah ku ada kamu ya. Kalo mau coba lagi hubungan ini ayok.
Aku mau banget. Kan kata kamu kita lagi ribut bawa tidur aja jangan bilang
udahan.”
Tebak dia
jawab apa “nanti kalo ketemu kita bahas. Aku males kalo call buat ribut doang.”
Tiba-tiba dia mulai menghindari pembicaraan serius. Aku berdetak kaget. Kubawa
namanya ke sholat istikharah dan tahajud ku. 3 hari kulakukan, namun selalu tak
kudapat jawaban dalam mimpi ku. Lalu di hari terakhir, aku berdoa agar
hilangkan perasaan kami berdua, lepaskan hubungan ini jika ketika aku
bersamanya bukan untuk menuju ke surgaMu.
Kejutan itu
datang di tanggal 17. Semula rencana menemani ia buat potong rambut, lalu dia
bilang mau ngopi sama teman-teman kecil nya. Aku pun tak bisa melarang. Di
tanggal 18 nya, di pagi hari dia bilang bahwa dia sedang jogging bersama
adiknya. Lagi-lagi aku tak mungkin melarang.
Namun…
bagaimana kelanjutan hubungan ini ? Jadi tidaknya kami bertemu, mau kemana ?
Jam berapa? Semua pertanyaan ini mengebul di kepala ku sendiri. Aku beranikan
untuk bertanya kepadanya. Nyata nya? Dia meminta ku untuk bertemu di tempat
saja, tidak mau dia menjemput ku. Aneh. Pikirku. Ternyata dia lagi ngerokok
lagi bersama teman nya di Plaju, suatu daerah yang cukup jauh dari lokasi
rumahnya. Aku termenung.
“Kamu
ngerokok, nongkrong gini bisa jauh, tapi gamau jemput aku. Pokoknya aku mau
dijemput,” ucapku sambil menahan isak.
“Mau atau
ga? Jam 2. Kalo mau ayok, kalo ngga yaudah.” Jawabnya seolah terpaksa, dengan
nada tinggi. Lalu dia melanjutkan “ aku juga butuh ngobrol sama temenku, aku
mau tidur bentar. Aku belum fit 100%.” Aku makin menahan amarah.
“Kok
kesannya aku aja yang mau ya buat ketemu? Kamu nggak. Aku udah ngikutin
schedule kamu, kapan kamu libur, kamu mau kemana dulu ya silahkan. Kok sekarang
kamu gini?”
“Ah ribet
kamu nih, intinya kalo mau ayok. Kalo ngga yaudah.” Dia memutuskan VC itu
secara tiba-tiba.
“Oke,
ketemuan di mall PS ya. Nonton kita, photobox, siapa tau jadi yang terakhir.” Aku
mengetik ini sambil gemetaran. “Kalo kayak gitu mending gausah ketemu, ngapain
ketemu kalo mau terakhir” ia membalas.
Singkat
cerita kami bertemu dan memutuskan untuk menonton bioskop ‘Kang Solah’. Ia
bergegas membeli tiket karna kami sudah terlambat 15 menit. Aku duduk di ujung
dan dia berada di sebelah kanan ku. Ia meraih tanganku perlahan, beberapa saat
aku menyenderkan kepala ku di bahu nya yang gagah itu. Perlahan rambutnya yang
ikal itu ditempelkan nya juga di kepala ku. Kami sesekali berbicara berbisik
dengan sangat pelan kurasa. Seringkali kami tertawa terpingkal karna aksi Jegel
dan Om Indro yang ciamik. Dia masih memegang tanganku. Hangat rasanya.
Namun
setelah kusadari, ia makin sering membuka pesan di handphone nya, seolah merasa
tak nyaman. Notifikasi chat yang masuk di smartwatch nya juga ditutupi dengan
sweater nya. Sesaat dia batuk, kutepuk pelan punggung dan dada nya. Sudah di
akhir film dia tiba-tiba mengeluh mules dan ingin BAB. Kubilang tunggulah
sebentar lagi film habis. Dia mengiyakan. Lampu ruangan tak lama menyala, ia
lalu izin untuk buru-buru ke toilet. Tak ada pikiran negatif ku. Aku pun
menyusul nya ke toilet, kukirim pesan ke whatsapp nya.
“ aku
pipis,” namun ceklis satu. Aku masih sempat berpikir bahwa tidak ada sinyal.
Tapi iseng ku cek di Instagram nya, ternyata aku di blokir. Aku chat kembali di
whatsapp, sama, aku diblokir. Aku tercengang, 10 menit aku diam di dalam XXI,
sampai akhirnya aku minta tolong satpam untuk mencari nya di toilet laki-laki.
NIHIL.
Aku segera
berlari ke meja informasi, minta untuk dipanggilkan namanya. Namun kutunggu,
tak datang juga. Ku cari ia di setiap pintu keluar, masih nihil. Aku pasrah.
Aku terduduk di kursi kopi kenangan. Kuteguk itu sekaligus. Sampai barista nya
bingung. Kado yang sudah kusiapkan tidak mungkin kalo aku buang. Jadi aku ber
inisiatif untuk mengantarkannya di tempat ia biasa nongkrong.
Ku pesan
GrabBike, secepat kilat kusuruh abangnya untuk mengendarai, karna hari sudah
maghrib. Titik nya berlokasi di ‘bubur ayam ummi’. Niatku tak padam, aku
pura-pura memesan bubur untuk dibawa pulang. Lalu ketika pulang , aku menaruh totebag
itu.
“Kak titip buat kak ahmad zein ya,” aku menaruh di depan
muka mereka.
“loh bang zein ada di depan kayaknya,” aku berdesir kaget. “ngga
deng kak, ada temennya aja.” Pelayan nya terkekeh pelan.
Aku beranjak pulang menuju stasiun LRT, dengan hati yang
hampa, kepala mau pecah juga rasanya. Namun air mata belum bisa turun juga. 2
bulan ku terbuang sia-sia bersamanya.
Komentar
Posting Komentar