Sebagai teman terbaik


                Sempat merasa iri dengan dirinya, yang kamu miliki sekarang. Sedangkan aku pernah hampir di posisi itu. Mencoba menempatkan diri ini berada di foto yang kini terpajang nyata di akun profil mu, mencoba mengobati luka terbelanga itu dengan memandang foto mu tiap kali handphone ku terbuka. Sungguh tuhan maha pembolak-balik hati seseorang.
                Desember lalu, malam-siang ku tak henti mengharapmu, yang tak lekas menoleh. Meminta agar kamu segera menyadari hal itu. Hal yang pernah sempat kamu berikan padaku. Sentuhan, senyuman, dan tatapan itu semua menjanjikan, kau pasti sudah sadar hal itu bukan? Resiko nya terlalu besar jika aku duluan yang memberi aba-aba bahwa hati yang hampa ini mulai merasakan kupu-kupu berterbangan. Semakin hari aku sadar bahwa ternyata kau juga melakukan sentuhan, senyuman, dan tatapan itu kepada banyak orang juga. Ya, memang kau terbaik. Kau memang sangat bisa diandalkan. Alangkah beruntungnya teman mu ada teman sebaik kamu.

Ya, kembali lagi kamu memang terbaik saat menjadi teman.
 Lucu memang, hanya aku yang seolah jatuh hati dengannya.
 Kenapa tidak ada yang terikat denganmu saat kau sangat menarik.

                Pertemuan kita berakhir dibulan Januari itu. Bisakah kau mengirim pesan terlebih dahulu kepadaku? Kenapa hanya aku yang bersikap dominan ketika jatuh cinta? Kenapa hanya aku yang bersemangat disaat yang lain hanya mengabaikan? Sempat terpikir bahwa aku akan merelakanmu, namun kau sangat hebat memang. Tau kapan aku akan berpaling, tau kapan aku mulai melangkah mundur. Disaat itu kau tarik ulur lagi benang kusut itu, membuat ku beranjak maju kearah mu lagi.
                Oh cinta, memang tak bisa ditebak kapan akan hilang dan kapan akan kembali. Setiap melintas didepan gedung itu, leher ku masih memanjang mencari kamu. Padahal sebenarnya aku tau kau ada di kamar mu, sedang berbaring dan memandang dari layar handphone mu seorang wanita lain. Benar bukan?
                Apa definisi cinta menurutmu? Apa hanya sebuah pesan text yang bisa kau kirim kapan saja, kemana saja dan membuat yang menerima nya akan senang? Ah, aku tau ini hanya aku lagi, lagi-lagi aku yang salah. Ego ku masih tinggi, hingga kau mengirim pesan cinta itu, aku tolak kamu mentah-mentah. Bukan, bukan aku tak mau menerima mu. Bukan juga karena aku selama ini berbohong bahwa kupu-kupu itu telah beranjak semakin dewasa dalam hati ku. Tapi karena aku ingin melihat lagi tatapan, senyuman dan sentuhan itu saat cinta terucap.

                Kini, melihatmu dengan nya, seolah menjadi doaku.
                Semoga kelak kalian kan merasakan pedihnya,
                cinta dilepas ketika belum dihargai perjuangan.

                Biarlah sekarang dia yang menerima nya dengan lapang. Jika fisik yang kau cari, silahkan. Aku akan mundur. Anggap aku hanya pelampiasan saat kau terjatuh, silahkan kau hubungi aku kapanpun itu. Aku masih menerima cerita keluhan mu tentang pacar barumu itu. Aku masih menerima suara sumbang ketika kau bernyanyi di telpon. Aku juga masih rela menghabiskan sisa-sisa lelahku agar kau tak merasa kesepian. Karna aku tau kau lebih dari dia, kau suka bosan dan lelah, kau yang masih bisa mengatakan rindu kepadaku ketika kau sedang bergejolak dengan pacarmu, kau yang masih bisa memberikan senyuman itu kepada wanita lain saat hati mu tau siapa yang menjadi milikmu.
                 Ah, sial. Semakin malam aku mengetik ini semakin menjadi luka terbuka, terluka perih karna tetes air mata. Maaf, aku memang hanya pelampiasan mu disaat kau bosan. Maaf, kamu memang tak pernah berubah, tetap kusimpan didalam hati meski hanya tuhan yang tau. Terimakasih, berkat suara mu kemarin malam aku tertidur nyenyak hingga siang menyeruak.

Berkat air mata ini, tidur ku terjaga. Terimakasih
                                Temanku.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

KITA

Arab Gila