Stay or Gone?
Haruskah aku
terus memunafikan diriku agar tak terasa sakit? Aku sudah melaksanakan nya tapi
kenapa ini masih sama rasanya. Klise abu itu diam-diam terputar di jalan tanpa
ujung, tanpa cahaya, tanpa seorangpun yang tau jika jalan itu ditetesi oleh air
mata yang keluar sesak. Yang ketika kulewati sisi kiri dan kanan nya saling
memutar klise abu itu bersamaan. Terngiang di telingaku, terbayang di otakku.
Sedang mataku terlalu sibuk dengan urusannya.
Kau terlalu hebat sayangku. Terlalu
hebat untuk tidak menghargai perjalanan ku. Memang aku yang tak sempurna, hanya
dia. Memang aku yang hanya terlalu menaruh rasa sayang berlebihan terhadapmu,
sedang kau menaruh kepada nya. Seberdosa itukah aku hingga kau terlalu muak
melihat rupaku? hingga kau tega menaruh dan mengambil harapan itu sesuka
hatimu?
Aku capek. Aku capek untuk terus
berpura-pura menganggap bahwa tak pernah ada hubungan diantara kita. Aku capek
untuk terus tak memperhatikanmu, sedang mataku selalu tau kau dimana. Setiap
aku mengabari mu, seolah kau sedang memberi tau kepada orang gila. Menjawab
seadanya, terkadang. Tak apa jika kau menjawab seadanya namun bisakah ini
seperti dulu. Saling memberikan perhatian satu sama lain, saling mengingatkan
disaat sedang banyak masalah.
Apa hal itu sudah kau dapatkan
darinya? Jika benar maka jawablah iya. Jangan seperti ada namun tak ada.
Seperti menjauhi namun tak jauh, saling bertegur namun hati bertolak.
Jangan kau ikut berpura-pura juga
seperti ku. Cukuplah aku yang selalu berpura-pura untuk mengikhlaskanmu dengan
dirinya. Cukuplah aku yang selalu merasa bahwa aku hanya pelampiasan belaka,
sedang dirinya lah yang kau cinta. Jangan.
Apa aku sudah terlalu gila untuk
mencoba cara terakhir ini? Mengutarakan semuanya kepadamu? Apa tanggapanmu?
Silahkan kau ingin tertawa terpingkal hingga urat geli mu lelah. Atau kau bisa
menganggap ku sebagai orang yang “alay” menurutmu itu sangat menjijikkan.
Karena apa lagi yang bisa kulakukan setelah memunafikkan diriku, berdiam seperti
tak terjadi apapun, mencoba mengikuti alur kehidupan, lewat di hadapan mu tanpa
rasa berdegup sedikitpun, bahkan harus menundukkan kepala ketika kau dengan
dirinya lewat.
Terkadang jadi serba salah. Aku
memunafikkan diriku, kalian pastilah senang tak ada gangguan. Tapi disatu sisi
aku yang harus sakit.
Aku mengungkapkan semuanya, memang aku
terasa lega setelah melontarkan semuanya. Tapi aku takut tanggapanmu yang
membuat ku sakit juga. Lalu apa
yang harus aku lakukan bila semua sakit akhirnya? Bahkan ketika aku selalu
bertanya dan kau tak bertanya balik seperti dulu rasanya aku sedang menjadi
reporter.
Aku tak bisa melangkah mundur untuk
menjauhi mu karna kau sendiri belum memberitahu ku untuk tinggal atau pergi.
Jika aku langsung mundur aku takut. Sangat takut. Dan masih teramat takut.
Sudah terlalu banyak usahaku untuk aku
melangkah mundur. Aku juga takut menyesal di kemudian hari karna sudah
melangkah mundur darimu. Tapi, alangkah
tinggi kepercayaan diriku jika aku terus maju tanpa sadar diri. Sadar bahwa aku
hanya lah klise abu mu dan hanya pengganti dirinya. Jika aku terus melangkah
maju tanpa memerhatikan apapun begitu lancang nya aku menganggu hubungan
kalian. Dan itu semua kembali lagi karna kau yang masih belum bilang aku untuk
tinggal atau pergi.
Jujurlah. Jangan kau persulit dirimu
sendiri. Sudah kubilang cukuplah aku saja. Jika kau merasa aku adalah kumbang
di hidup mu maka usirlah aku dengan tegas bukan dengan kalimat penyejuk yang
malah nampak seperti cahaya harapan baru.
Tapi jika kau merasa aku masih kau
perlukan walau hanya sebagai temanmu maka rangkul lah aku seperti dulu lagi. Ya
atau tidak nya itu yang menentukan aku akan mundur atau maju melangkah. Apakah
sulit?
Apapun jawaban mu aku akan tetap yakin
semua memiliki akhir, dan setiap akhir adalah hal yang baik dan bahagia. Entah
itu dariku atau darinya atau orang lain. Yang jelas, terimakasih atas waktumu
yang kau buang untukku kemarin. Terimakasih sudah memberi warna dikehidupan SMA
ku yang hitam ini. Terimakasih.
Dari orang yang
selalu menyelipkan nama mu
di doa nya...
Komentar
Posting Komentar