LOVE in The EVIL
Genre : Romantic, sad, tragic
PG: +13
Cast:
- Park Ji Hyun
- Cho Kyu hyun
- Lee Dong Hae
- Kim
Hye In
- Lee
Hae Ri
Chapter
1 : my new job
Aku sedang
menatap layar galaxy tab ku sambil bermain games untuk menghilangkan
kebosananku mengantri. Ya, hari ini aku sedang melamar kerja di salah satu
perusahaan ternama di Seoul yaitu Game
Corporation. Aku akan melamar sebagai sekretaris disana, mungkin akuntasi
boleh juga.
“Park
Ji Hyun.. silahkan masuk.” Aku langsung merapihkan baju serta berkas ku lalu
masuk ke ruangan yang tadi ditunjuk seorang pemuda. Dengan sedikit ragu aku pun
masuk ke ruangan full AC itu. “Annyeong, Park Ji Hyun imnida,” kenalku sedikit
agak berbasa-basi ke juri penerimaan itu. “Silahkan duduk agassi,” kata seorang
namja yang sedikit lebih tinggi dari ku itu dan bernama Kim Ryeo Wook. Aku pun
duduk di kursi yang sudah tersedia, ku dengar suara derap langkah sepatu
menginjakkan kakinya kelantai batu marmer ini. Perlahan namun pasti namja itu
mendekati Ryeo Wook-ssi. “Tuan Kim, apakah yeoja yang ingin melamar menjadi
sekretaris ku sudah di persilahkan masuk?” ku dengar suara itu dari sudut
ruangan. Sesekali aku menatap wajah namja yang tak kuketahui namanya itu.
Wajahnya putih seperti malaikat. Itu pikir ku sekarang.
“Deg…
perasaan apa ini sebenarnya?” kenapa jantungku berdetak cepat saat namja itu
mendekati ku. Aku hanya tertunduk. “Ini dia Pak Cho orang nya, namanya...”
belum selesai Ryeo Wook-ssi berbicara namja bernama pak Cho tadi langsung
menyebut namaku “Park Ji Hyun,“ ucap nya lirih. “Usia nya sekitar 21 tahun
pak,” kata Ryeo wook-ssi dengan cepat lalu masuk ke dalam ruangan lagi. Aku
berdiri dan membungkuk sempurna didepan namja yang kukira dia adalah bos ku
nanti.
“Ha...Ha...Ha...Ternyata
pegawai yang satu ini sudah tau aturan sebelum diajarkan,” kata calon bos ku
itu tertawa.
“Aishh...
Kenapa aku harus bertemu namja evil seperti dia, dan kenapa harus dia yg
menjadi bos ku”, kataku dalam hati sambil menggepal tangan. Kalau saja bukan
karna perceraian orang tua ku…Arghh.
“Oh,
ya... Nae ileum-eun Cho Kyu Hyun imnida, 25 nyeon doib. Walaupun umurku
termasuk tua tapi muka ku masih mulus kan?” Ia tertawa keras ketika melihat
tangan ku masih mengepal dan mengeluarkan urat di punggung tangganku. Walaupun
memang aku agak terkagum melihat namja seperfect nya. “Nawa hamkke, dan jangan
lupa besok kau mulai bekerja ditempatku,” katanya sambil menaruh berkas ku
sembarang. Aku hanya merasa heran padahal aku belum di tes tapi kenapa sudah
diterima. Tapi sudahlah aku tak begitu perduli dengan tes nya. “Ha... Ha… Yeey
aku diterima,” kataku sambil melompat dan tidak sengaja menginjak kaki bos ku
dan aku terjatuh di pelukannya. Entah kenapa pelukannya hangat seperti pelukan eomeoni.
“Akhh… Mianhae pak Cho,” dan kurasa pipiku sudah merah karna malu. “Ne...
Gwenchanayo Ji Hyun. Aku suka yeoja polos seperti mu,” balasnya sambil
mengeluarkan smiling angle.
Segera
aku langsung meminta izin untuk ke toilet, ruangan ini sangat luas bahkan bisa
untuk bermain bola kaki tetapi kenapa setiap aku berada di dekat nya ruangan
ini menjadi sempit. Ku ambil galaxy note ku dari saku cardigan, ku tekan nomor
panggilan cepat 1.
“Oppa...
Aku berhasil diterima di perusahaan ini,” ucapku sambil berteriak kencang
kepada donghae. “Kyaaa… Kau mau memekkakan telinga ku hah?” kata nya sambil
berteriak pelan. “Ya sudah nanti oppa jemput disana sekitar jam 1 siang, oppa
masih ada meeting sebentar dengan klien. Bye istriku...” katanya kepadaku. “Kyaa...
Oppa kau memanggilku istrimu?” kataku berteriak walau panggilannya sudah
terputus.
Aku berjalan menuju kantin perusahaan ini sambil
terus menatap jam tangan. “Ini masih jam 11 pagi... Aku harus menunggu dimana
ya?” kataku hendak mengambil air mineral di tempat tumpukan minuman dingin itu.
Tiba-tiba saja gumaman ku tadi didengar oleh namja yang lumayan lebih tinggi
dari ku itu. “Ji Hyun kau mau pulang dengan ku? karna seperti nya kau sedang menunggu
seseorang.” Aku menatap nya lekat “Ah, gumawo seosangnim… Gwenchanayo aku
disini saja seosangnim. Aku menunggu namjachingu ku,” kataku sambil menunduk.
“Baiklah,
kalau begitu kau mau menemani ku jalan-jalan? Dirumah aku hanya ditemani
pembantu ku,” katanya agak memaksakan. “Hmm, namja ini lumayan tampan. Ah ani
mungkin jauh dari namjachingu ku, kulitnya putih bak susu vanilla, tinggi nya
sekitar 180 cm, dan tunggu tadi dia bilang sendirian dirumah,” lamunku yang
kemudian kurasakan ada yang menarik tangan ku. “Ayo ikut aku, aku akan
mengajakmu kesuatu tempat. Dan satu lagi panggil aku oppa atau Kyuhyun-ssi,”
katanya sambil terus menarik kuat tanganku.
“Genggaman
ini…” aku mengingat masa lalu ku disana terdapat sentuhan seperti ini juga. Aku
juga tak tahu kenapa aku tidak bisa menolak ajakan darinya “Ah, mungkin ini
hanya perasaan ku saja,” kataku dalam hati. “Ayo Ji Hyun cepat masuk ke mobil,”
katanya sambil membukakan pintu mobil sport nya dan membuyarkan lamunanku lagi.
Aku pun segera masuk dan memasang safe belt. “Kau siap Ji Hyun?”, katanya
sambil menstart mobil. “Ne, Pak.. Eh oppa,” kataku tersenyum malu. “Aku akan
membawamu ketempat yang mungkin kau kenal,” Kyuhyun mempercepat laju mobilnya
dan sesekali tertawa melihatku naik ke bagian atas mobil. “Ha..Ha..Ha.. Apa kau
tak pernah melihatnya?” kata Kyuhyun cekikikan. “Uhm, aku sering melihatnya,
tapi kurasa akan berbeda jika merasakan nya sendiri,” kataku duduk kembali. “Aku
lapar oppa.. Ayo makan dulu,” kataku sambil menekan-nekan tombol di mobil. Ya
aku memang tak pernah menaiki mobil seperti ini karna orang tua ku sudah
bangkrut duluan sebelum membelinya. “Otte.. ” Kata Kyuhyun sambil memarkirkan mobilnya.
“Ji Hyun kau sudah punya namjachingu ya?” kata Kyuhyun bertanya kepadaku sambil
menggadeng tangan ku masuk ke café kecil itu.
“Ya, aku sudah mempunyai namjachingu. Sudah 1 tahun. Kau sendiri
Kyuhyun-ssi?” kataku menyeimbangkan pertanyaan dari nya. “Aku? Hah.. Mana ada
yang mau denganku, yeoja itu semua menginginkan hartaku saja sedangkan tak ada
dan kasih sayang untukku. Lagipula aku sedang menunggu seseorang,” kata Kyuhyun
sambil menarik kursi ku. “Eh, tunggu ini tempat namjachingu ku bekerja oppa,”
ungkapku sambil menutupi sebagian muka dengan cardigan milikku. “Kenapa kau
mengendap seperti itu Ji Hyun?” kata Kyuhyun heran. “Ah, aniya.. kajja kita
pesan makanan,” kataku masih menutupi. “Sini biar aku tutupi kau. Lagipula
apakah kau akan malu jika ketahuan membawa bos setampan ku?” katanya sambil
memelukku dari belakang. “Deg..Deg..Deg.. Jantungku berdebar lagi. Kali ini
lebih kencang”, seingatku masih kecil dulu. “Ini jas ku. Aku akan pesan
makanan. Kau mau apa?” kata kyuhyun bersiap berdiri. “Aku Orange caramel dan
Jjangmyeon saja,” kataku sambil melihat kiri kanan untuk memastikan tak ada
Donghae oppa disana. “Yasudah, aku pesan dulu ya,” kata Kyuhyun sambil
melenggang pergi.
“Gawat…Ada
Donghae oppa disana,” bisikku sambil melihat jam tangan. “Ini kan sudah lewat
jam makan siang, dan siapa yeoja disebelahnya itu? Nampaknya sudah akrab dengan
namjachingu ku itu,” batin ku sambil memerhatikan mereka ngobrol. Dari kejauhan
Donghae oppa nampak asik mengobrol dengan yeoja itu. Lalu kudengar samar-samar
pembicaraan mereka. “Oppa... Apa kau sudah mempunyai yeojachingu?” kata yeoja
itu manja. “Hem… Tentu saja belum, Haeri-ah.” kata Donghae berbisik kepada
yeoja yang kutahu namanya adalah Hyeri itu. “Arghh…Dasar laki-laki playboy.
Heh, pantas saja akhir-akhir ini dia sering pulang malam,” kataku geram. Aku
masih terus mengawasi mereka berdua tanpa sadar Kyuhyun sudah berada di sampingku.
“kau kenapa Ji Hyun?” kata Kyuhyun meletakkan makanan diatas meja. “Kalau saja
ini bukan tempat umum aku pasti sudah menampar wajah yeoja itu.. Neomu paboya,”
ucapku sambil menggertak gigiku tanda geram dan menatap wajah yeoja itu lekat.
Aku masih menggegam tisu disampingku. “Ini Jjangmyeon dan Orange caramel mu,”
kata Kyuhyun mengejutkanku dan memegang telapak tangan ku. “Kyu, cepat habiskan
makanan mu. Aku sudah tak nafsu makan,” kataku sambil sedikit membentaknya.
“Uhuk..Uhuk..Kau ini kau tadi yang meminta makan sekarang tak mau. Ayolah
nikmatilah dulu,ini sangat enak.” kata kyuhyun menenangkan sambil menyodorkan
bimbimbap kemulutku. Ya saat ini hanya kyuhyun lah yang berhasil membuatku
tenang bahkan memandangi wajah donghae oppa pun aku semakin ingin keluar dari
sini. “Hah, baiklah,” kataku mengambil nafas berat dan mengaduk jjangmyeon itu
kasar. Kudengar samar-samar suara yeoja itu lagi. Sepertinya malaikat ingin
menunjukan kebenaran.
“Oppa..
Apa kah aku boleh menjadi kekasihmu?” kata yeoja itu tak tau malu. Belum sempat
Donghae menjawab aku pun membanting garpu dan sumpit ku kelantai. “Hei apa kau
bilang hah wanita jalang?” kataku hendak berdiri dan menampar yeoja yang kutahu
tadi namanya adalah Lee Haeri. “Ji Hyun kenapa kau ada disini?” kata donghae
sedikit gugup dan berdiri dari kursinya. “Plakkk…” sebuah tamparan keras
mendarat tepat di pipi chubby sebelah kiri Haeri. “ Ji Hyun… Bukankah tadi
kusuruh kau menunggu di halte bus dekat kantor baru mu? kenapa kau disini
bersama namja ini?” donghae berusaha melerai perkelahian aku dan Haeri dan
menatap sinis ke wajah Kyuhyun. “Ji Hyun, hentikan ini lebih baik kau ikut
denganku,” Kyuhyun melerai sambil membawa ku pergi menjauh dari café itu. “Ani
oppa aku ingin memberi pelajaran kepada yeoja yang ingin merebut namjachingu
ku. Yeoja ini sudah kelewat batas,” kataku memberontak. Kulihat yeoja tadi terduduk
menangis kesakitan dan mengeluh kepada Donghae oppa. “Awhh... Appo-yo… Oppa-ah
obati aku,” katanya masih berlagak manis didepanku. “Kau Donghae… ingat ini,
aku memang tak akan menampar mu. Tapi aku janji kau akan merasakan yang lebih
perih dari sebuah tamparan belaka,” kata ku sambil menghindar dari mereka
mengikuti genggaman Kyuhyun oppa. “Ssst... Namja sekarang playboy yah,” kata
seorang pelayan yang dari tadi memerhatikan perselisihan ini. “Ji Hyun ini
tidak seperti yang kau lihat.. Dia hanya klien meeting ku saja tidak lebih”,
kata Donghae berteriak. Hah, tapi percuma walaupun dia berteriak sampai gendang
telinga ku pecah sekalipun aku tak akan menoleh kebelakang.
“Ji Hyun... kenapa kau begitu sensitive terhadap namjachingu mu?
baru masalah seperti ini saja kalian sudah menyerah seperti ini. Apakah
semenjak 1 tahun kalian berpacaran tak ada masalah yang sama?” kata kyuhyun berusaha
memberi nasehat sambil terus mengejar langkah kaki ku yang terlalu cepat.
“Haishh, kau diamlah atau kau akan mendapat lebih dari sebuah tamparan,” kataku
mengangkat tanganku hendak mengambil langkah untuk menamparnya. “Hem, ya kau
memang yeoja keras kepala,” Kyuhyun berdehem lalu duduk di mobilnya. Aku
mengurut kepala ku sedikit, kuberi minyak penghangat dengan aroma relaksasi. Cukup
lama Kyuhyun berdiam akhir nya bertanya “Ji Hyun apa kau tidak menyesal berkata
seperti tadi di café itu?” tanya Kyuhyun sambil membelokkan mobil menuju tempat
yang ingin dia tunjukkan kepadaku. “Ah, sudahlah kau Kyuhyun. Kau tak mengerti
tentang perasaan ku sedikit pun. Aku hanyalah yeoja miskin yang tak pantas kau
kasihan kan…” kata ku sambil mengambil saputangan dari tas nya. “Sebenarnya aku
mengerti apa yang kau rasakan Ji Hyun.” gumam Kyuhyun menatap ku sejenak. Aku
kembali menatap tumpukan kertas mungkin dokumen kantor di belakang mobil. “Ji
Hyun dengarkan aku dulu,” Kyuhyun mengerem mobilnya mendadak dan kurasa ini
adalah tempat yang akan ditunjukkannya padaku. “Ji Hyun, jika kau ingin
menangis, menangis lah di bahu ku. Aku selalu ada untuk menghapus kesedihanmu,”
kata kyuhyun menaruh kepalaku ke bahu nya. Hem terasa sanggat meredam amarahku.
“Huh, kenapa harus bos-ku yang bersikap romantis seperti ini bahkan lebih dari
Donghae oppa,” sesak kurasakan di mata dan jantungku seketika.
“Sudahkah kau merasa agak
nyaman?,” Kyuhyun membangunkan ku. “earghh.. Kepalaku sakit,” kata ku
mengangkat kepala ku dari bahunya. “sebaiknya kita keluar untuk mencari udara
segar. Kau nampak pucat Ji Hyun-ie”, kata kyuhyun membukakan pintu mobil untuk
ku. “aishhh.. Udara nya sangat segar oppa”, kata ku sambil merentangkan tangan
dan berlari lari kecil hanya untuk menikmati daun-daun musim gugur ini. Tak
terlalu jauh aku berlari aku nampak sedikit terkejut dengan bangunan kecil full
color itu. “Hei, Ji Hyun aku capek. Ayo duduk di ayunan ini sebentar”, tegur
kyuhyun yang sekaligus membuyarkan flashback masa lalu ku. “Eh,, ya sebentar
oppa”, kata ku sambil berjalan menuju ayunan itu. “Sekarang kau ingat aku Ji
Hyun-ie?”, kata Kyuhyun berlutut di depan ku. “Omona.. Sungguh aku benar-benar
tak ingat oppa”, kata ku jujur. “Hem, baiklah jika kau tak ingat. Aku akan
segera memulihkan ingatan mu itu”, Kyuhyun berdiri lalu menutu mataku dengan
saputangan nya. “Wangi parfum ini..” Gumamku tak berkesudahan. “Kau siap Ji Hyun-ie?
Tapi kau jangan menangis ne?”, kyuhyun menggengam tanganku dan menggiring ku ke
suatu tempat. “Tadaaa… Kyuhyun melepas kain di atas tembok itu”, Ji Hyun-ie
sekarang bukalah. Aku pun langsung membuka saputangan itu. Dan kulihat sebuah
coretan di dinding putih ada seorang lelaki di bawahnya bertuliskan ‘Chah Kyu’
dan di sampingnya ada lukisan anak perempuan yang sedang duduk di ayunan
dibawahnya bertuliskan ‘Parkh Ji’. Kepalaku terasa sangat sakit ketika harus
berusaha mengingat nya. Kyuhyun langsung menggopoh ku masuk ke dalam bangunan
itu. Kulihat tulisan depan bangunan itu ‘TK MEMORY II’. Kumasuki perlahan
sambil bahu kuterus dicengkram kuat Kyuhyun. Aku masih tertegun melihat tulisan
di banner itu ‘WELCOME MY WIFE IN OUR KINDERGARDEN’. “Istri mu?”, tegur ku ke
Kyuhyun dengan muka aneh. “Kau tak ingat Ji Hyun-ie?”, kyuhyun menggoyangkan
bahuku sejenak lalu menghela nafas berat. “Semenjak kecelakaan itu ingatan mu
semakin tidak mengingatku”, kyuhyun memelukku lalu mencium kelopak mataku
sejenak. “Kyuhyun, sebenarnya aku masih mengingat sedikit ketika di Tk ini”,
kata ku memberi harapan kepada kyuhyun yang sedang berjongkok lemas. Aku
berlari-lari sambil meneriakan kata ‘my nampyeon’ dan meminta agar kyuhyun
mengejar ku. “Paboya..” Kata kyuhyun berlari mengejar ku sambil berteriak. “Ayo
kyuhyun kejar aku kalau kau bisa. Dasar anak penyakitan.. Upss”, kata ku
terduduk karna kecapekan. “Hei, paboya kau mengejek ku apa tadi hah?”, kata
kyuhyun sambil memeluk erat pinggangku. Sejenak kulupakan masalah yang baru
saja terjdi tadi siang dan tak terasa waktu sudah hampir sore. “Mianhae Ji
Hyun-ie…”, kata kyuhyun menitihkan air mata. “Waeyo? Memangnya oppa ada salah
apa denganku?,” kataku sambil melepas pelukan dari kyuhyun. “Aish, kau ini
masih muda tapi sudah pikun ternyata”, kata kyuhyun menyentil keningku. “Kau
tau aku sudah mencari mu ke seluruh penjuru Seoul tapi apa kau juga mencari ku
hah?”, kata kyuhyun sambil berdiri dan menggaruk kepalanya yang tak gatal itu.
“Kenapa aku harus mencari mu? sedangkan pada akhirnya kita memang ditakdirkan
bertemu kembali setelah perpisahan tempo dulu”, kata ku ikut berdiri. “Kau tak
perlu tau bagaimana kehilangan ku saat itu, cukup mulai lembar baru”, kata ku
memojokkan di pohon akasia di belakang ku. kyuhyun menangis sambil mengatakan
“Ji Hyun-ie jeongmal mianhamida.” “Sekarang aku bertanya oppa. Kenapa kau tak
memberi tahu ku kalau kau akan pergi ke Jepang? Padahal sehari sebelum itu kita
ada acara keluarga?!,” kataku berteriak sementara kyuhyun yang masih merasa seperti
sangat bersalah, “Kau hanya memberiku selembar kertas itu, kau pikir aku bisa
tenang dengan begitu saja disaat aku sedang sakit pula.” Kyuhyun memegang bahu
ku erat dan menciumku di kening, “Ji Hyun jeongmal mianhamida, nae jeongmal mianhamida.
Jadi kau memaafkan aku kan chagiya?” kyuhyun menggoda ku dengan tampang polos
layaknya bayi. Tak ada yang bisa ku katakan kalau dia sudah seperti ini.
“Mianhae hal gotkkajineun obso, Kyuhyun,” kupeluk kyuhyun dengan erat begitu
masalah sudah terselesai kan dengan teman karibnya itu. Aku masih belum mau
pulang dari TK ini, aku masih mengulang kebiasaan ku memanjat pohon. Ku tantang
kyuhyun menaiki pohon, walaupun aku tahu kyuhyun paling anti dengan ketinggian,
namun biarlah. “Hei, Baboya ayo naik,” kata ku melempar kyuhyun memakai batu
taman dengan gaya menggantung di salah satu ranting pohon itu.
Komentar
Posting Komentar