Melepas dengan Ikhlas
Hai, aku orang yang kau tinggalkan dengan cara yang sadis itu...
Pace yang terlalu cepat itu memang semestinya sudah ku curigai dari awal. 5 jam terasa singkat di sore hari tanggal 6 September itu. "Akhirnya aku mendapatkan seseorang yang pintar mengendalikan emosi nya," adalah hal yang kupikir sesaat setelah hari itu berakhir.
Setelah kupikir lagi, apakah ini yang dinamakan love bombing. ah, otakku masih denial akan hal ini. Gen-z terlalu sering bercanda perihal pernikahan, kata-kata manis nya hanya bisa di screenshot tanpa perilaku yang sejalan. Kupantau dia hari demi hari, apakah hanya di awal-awal saja. Nyatanya?? TIDAK. Dia konsisten untuk terus-terusan meyakinkan aku yang penuh akan trust issues itu, hari-hari ku kini di warnai dengan foto narsis nya, kegiatan random si abang-abang teknik nan jauh disana. Jarak 70 km kini terasa tidak terlalu berat bagiku yang baru pertama kali merasakan LDR.
Kita, pada awalnya berjalan lancar, ada salah kita perbaiki, ada curiga kamu tenangkan aku, kamu capek aku peluk kamu dari jauh. Bahkan suara mu masih terngiang di telinga; saat kamu tertawa, marah, bercanda, atau saat kamu menjadi storyteller, semua masih terekam dengan jelas sayang ku.
Kini sudah seminggu selepas kau pergi...
Aku sudah baca lagi semua percakapan kita. Baik yang aku sudah bintangi, ataupun kalimat terakhirmu, atau jg kalimat demi kalimat yang dahulu bikin aku tersenyum, sekarang malah terasa nyesek. Lucu ya, dulu aku percaya setiap kata yang kamu ucapin, setiap rencana kecil yang kamu buat. Aku pikir semua itu nyata, ternyata cuma angin yang berhenti di tengah jalan.
Sebenernya, aku nggak marah, sungguh. cuma sedih, karena aku pernah seutuh itu percaya. Aku sudah berusaha sebaik mungkin buat menjadi seseorang yang mengerti kamu, memaklumi kebiasaan burukmu, berusaha sabar untuk kabar-kabar yang kunanti, dan tetap tinggal bahkan ketika kamu mulai menjauh. Tapi ternyata, yang tulus pun bisa ditinggal tanpa penjelasan. Namamu sudah kubawa ke sholat istikharah ku, tahajud ku, bahkan hingga dhuha. Tanda aku sangat menginginkan dirimu ada di hidupku hingga akhir hayat tiba, tanda bahwa aku ingin melangitkan hubungan kita ditengah keributan kecil yang sering kita bicarakan. Karena katamu mau ada diriku dalam susah dan senang nya dirimu. Katamu, kamu akan gila jika aku tinggalkan, dan juga katamu akan menjitak kepala anakku jikalau aku bersama dengan pria lain.
lagi-lagi itu semua katamu, dulu.
Ini bukan ekspetasi ku yang terlalu tinggi, ini adalah bentuk bahwa aku bisa menerima siapapun asalkan mau berjuang bersama. kuturunkan ego ku, kumaklumi salah mu, ikhlas ku paling dalam jikalau kau memang meninggalkan ku lantaran ada wanita lain yang mampu mengenggam dirimu dengan lembut. Aku akui dia hebat jika bisa mengendalikan mu.
Satu bulan lebih 10 hari kita bersama. Harusnya ini masih masa kita saling melempar kata-kata cinta, harusnya kupu kupu di perut kita masih saling berkumpul. nyatanya? bahkan satu saja impian yang mau kita ciptakan itu, baik kecil ataupun besar, tak ada yg tercapai. Makan di resto favorit ku, ngopi di tempat temanmu, menelurusi kota palembang, memberikan aku bunga, membuat kenangan dengan photobox, yang katanya foto ku akan masuk dalam dompetmu, apalagi sampai aku dikenalkan dengan keluarga mu sebagai 'calon istri', sampai pernikahan intimate yang kamu impikan itu. Kini tak ada satupun yang terlaksana.
aku murung, hampa, rasanya bagai disambar petir.
Tapi bagaimana bisa aku mengabaikan jawaban dari Sang Maha Pencipta, yang maha membolak-balikkan hati dan rasa seseorang. Aku pun cuma mau bilang, aku bukan korban dari perasaan ini. aku cuma seseorang yang sempat mencintai dengan cara yang salah, ke orang yang belum siap dicintai benar, dan itu nggak apa-apa. Aku bakal sembuh, perlahan. mungkin masih akan teringat, tapi sudah gak mau kembali.
Karena mulai hari ini, aku nggak lagi nunggu orang yang nggak tahu cara menghargai kehadiranku. Aku selesai. bukan karena udah nggak sayang, tapi karena akhirnya aku sadar: aku pantas untuk dicintai balik dengan usaha yang sama. Bukan cuma sekadar hadir dengan kata indah, berjuang disaat jauh dan bertahan disaat kita rapuh.
dari aku yang pernah berjuang,
terimakasih
Komentar
Posting Komentar