Menuju Pernikahanmu
bulan februari ini, tepat kita 3 tahun lamanya bersama.
sepertinya lebih ke aku yang merasa memilikimu, sedangkan kamu tidak.
kewarasanku di uji, naik turun tantangannya kita hadapi bersama-sama
pernah satu saat aku sungguh menginginkan dirimu, hingga aku kehilangan diriku sendiri
pernah satu hari aku sungguh merasa bodoh karna berharap bersama mu, namun tetap kamu meyakinkan ku lagi.
hingga aku pernah berada di fase "untung masih ada kamu, meski tanpa status."
aku yang menyanggupi penderitaan selama ini, aku yang membuat luka sendiri, namun dibalut oleh kebahagiaan yang sulit dihindari
aku tidak menangis lagi ketika mendengar tanggal pernikahan mu yang tinggal hitungan hari
mataku tidak lagi sembab, nafsu makan ku masih normal, dan aku masih menjalani hari-hari dengan tersenyum sepi
dengan atau tanpa dirimu, aku masih sendiri
dengan atau tanpa dirimu, aku memang merasakan diriku bisa lepas menjadi aku sendiri
tapi dengan atau tanpa dirimu juga, sebenernya nama kita berdua tetap tak akan menjadi satu di kemudian hari
aku sadari, dan aku sudah merenungi
mungkin kita selalu punya harapan dan ambisi
tapi semesta tau bagaimana caranya mengakhiri tanpa menyakiti
setidaknya kau bahagia dengan dia sebagai calon istri
dan aku?
kebahagiaan ku juga masih menjadi misteri
tak ada yang tau, namun setidaknya aku akan meninggalkan kota ini
berbahagialah kamu, kuharap jangan terulang lagi
aku pernah dihadapkan oleh cobaan yang lebih dari ini
ditinggalkan oleh mama bukan suatu hal yang mudah, tapi akan ku coba hadapi
apalagi hanya ditinggal oleh dirimu yang sudah seharusnya tak pernah kuberikan hati
sesak ku biar ku tanggung sendiri
tak usah kau ambil pusing, karna nanti akan berbentuk karma di kemudian hari
maka dari itu, aku ucapkan banyak terimakasih karna sudah 3 tahun membersamai.
dari aku yang selalu kau panggil mocci
Komentar
Posting Komentar