Perihal Rindu
Hei
kamu, apa kabar?
Rasanya
kita baru saja menggumam semalam suntuk, hingga kamu terlelap dan aku menahan
kantuk.
Mengamati
guratan di dahi mu, sayup teduh terdengar dengkuranmu, menjalar melalui kabel
perantara ini.
Sesekali
kau bergerak mengubah posisi tidurmu agar lebih terasa nyaman. Klise memang.
Tapi aku terlalu bodoh jika harus melewatkan momen ini.
Pernah
juga dalam sehari itu, perutku sangat dipenuhi oleh kupu-kupu terbang. Sesak
namun bahagia kurasa.
Tak
terasa kini kau telah menjadi keseharianku, kebiasaanku, dan candu.
Romansa
yang kau ciptakan dengan ketidaksengajaan, kini menjadi harap ku agar menjadi
sebuah perasaan yang kekal.
Bersama
dengan rintik turun dan gemuruhnya, aku ingin menitipkan rintihan rindu kepada
angin yang berlalu.
Namun
jarak yang terbentang membuat nya menjadi lebih membisu hilang ditelan gemuruh.
Suara
desahmu berhembus merasuk ke rongga telingaku, lirik matamu seolah berkata kau
ingin menetap.
“Aku
mengenalmu tanpa sengaja, dan mencintaimu secara tiba-tiba”
Namun
realita tentu tak seindah itu, kini sepertinya aku terlalu banyak menaruh
ekspetasi kepada hubungan yang bahkan aku tidak bisa banggakan kepada sahabatku
Nyatanya
kamu hanya singgah sesaat, meninggalkan jejak membekas.
Nyatanya
romansa kita hanya sebatas menceritakan segala sesuatu yang semestinya hanya
menjadi rahasia semesta belaka.
Nyatanya
kamu hanyalah jurang antara kesetiaan dan kegilaan, sebatas harapan semu yang
mungkin tak jadi kenyataan.
Mungkin
tidak ada yang menjadi waras saat jatuh cinta, karena sejatinya perasaan kita
tidak bisa ditentukan. Mungkin hari ini menjadi putih, atau besoknya menghitam.
Mungkin hari ini kau masih mengirimi ku pesan, besok dirimu tinggal kesan.
Berulang
kali ku ketikkan “aku kangen kamu” atau hanya sebatas sapaan pagi dan malam,
namun tanpa berpikir ulangpun aku hapuskan kata itu kembali. Sekadar tak ingin
kamu tau aku memeluk rindu yang tercipta lantaran luka.
Kita
memang belum pernah bertatap muka, atau bahkan hanya bersenggol antara jemari.
Tapi aku sudah rindu.
Pun
belum ada yang dimulai, aku sudah merasa memilikimu. Hah, cinta memang selucu
itu bukan?
Dan
yang paling aku bingungkan, kenapa pada akhirnya aku tetap tak bisa berdiam
diri seolah tak pernah ada kamu. Kenapa aku lebih memilih mematikan ego-ku
sendiri agar mengajakmu berbicara kembali, sungguh karena aku benci saat kamu
menjadi diam, meski sekadar balasan centang dua biru yang kudapat.
Saat
telepon genggam ini tidak bisa membalaskan perasaanku padamu, tenang, masih ada
gelap yang menyapa.
Aku
dan malam yang larut ini bercengkrama bersama. Aku menceritakan dirimu, orang
yang kudamba. Aku menceritakan diriku yang bodoh karena bisa mencintaimu hanya
dengan waktu sesingkat-singkatnya. Dan aku yang tetap memunanjatkan doa beserta
namamu di dalam doaku, tanpa henti, berkali-kali.
Sementara
ku tau disana kau telah ada yang menemani, memeluk dan memilikimu. Kadang aku
pun dibuat bingung kenapa masih tetap kupilih mencintaimu, Padahal jelas aku
tahu jawabannya, kamu mencintai dia.
Doa
ku ternyata belum terkabul. Aku mencoba menghabiskan sebagian waktu hanya untuk
membuatmu tertarik, takkala ku pun mencari tahu apa yang kamu suka. Lalu,
mencoba menjalankannya. Berharap kamu mau membuka hati.
Namun,
semakin hari semakin keras perjuanganku, semakin terlihat pula kamu tidak
perduli. Ya, Perlahan kau membunuhku tanpa perlu menyentuh tubuhku.
“Terimakasih
pernah ada meski hanya sebatas rahasia”
Apa
kau tau, membawa diri pergi dalam keadaan masih mengharap penuh dan mencintai
adalah salah satu hal yang paling susah dijalani?
Dan pada
akhirnya, pengabaianmu adalah alasan terbaik melepaskan cinta dan perasaan
ingin memilikimu.
Jika
saja kau mau bersedia sayang .. untuk membuka hati, kamu akan tahu betapa
dalamnya aku bisa menenggelamkan diri. Kamu akan tahu perasaan ini bukan hanya
untuk sekadar menyukai, namun aku ingin menjadikannmu yang teramat berarti.
Aku
ingin memelukmu dengan sepenuh rindu, bukan lagi hanya sebatas khayalan semu.
Namun
apalah dayaku, sampai hari ini kamu memilih untuk tak mau tau.
Ternyata
merindu itu sangat menyenangkan, bila yang dirindu juga rindu. Tapi nyatanya
cinta padamu adalah semanis-manisnya patah hati.
Sampaikan salam ku
pada
rindu yang tak bertuan,
Uwuuuu semangat
BalasHapus