Cerpen Kursi Keramat
Kujejakkan
kembali langkah kaki ku di sebuah gedung yang pernah menjadi catatan sejarah
hidupku. Gedung yang tak terlalu besar, mempunyai banyak lorong-lorong, tangga
bahkan ruangan. Label nama terpasang jelas di depan gedung itu. Aku berjalan di
sebuah lorong nostalgia. Sebuah ruangan menjadi pusat perhatiaan ku. Tak
sengaja Mp3 Player ku memutar sebuah lagu tak asing di telinga ku.
Kita selalu berpendapat. Kita ini
yang tehebat.
Kesombongan dimasa muda yang indah.
Aku raja kaupun raja, aku hitam
kaupun hitam.
Arti teman lebih dari sekedar
materi.
Aku
masuk bersama beberapa rekan ku. Aku terhentak ketika melihat diriku sedang
duduk di kursi paling depan, mengobrol.
“Selamat
pagi. Kakak disini mau sosialisasi jurusan FK. Penjelasan selengkapnya bakal
dilanjutin Kak Eka. Kepada Kak Eka dipersilahkan.”
“Ngunggg....”
Kepala ku terasa berputar dengan sendiri nya. Aku tak fokus memperhatikan Eka
yang sedang menjelaskan. Aku berpindah tempat duduk, ke belakang sekali.
Kebetulan ada kursi kosong.
“Hey
geng... Kita duduk disini aja ya. Biarin tuh geng pinter duduk didepan,” Amel
berteriak seolah-olah mengejekku.
“Kenapa
lo liat-liat ha? Gak suka? Nihh makan upil,” gelak tawa Amel dan geng nya
seraya mengibaskan rambutnya.
“Udah
Ta. Biarin mereka gila sendiri ngatain kita mulu,” aku menarik badan Dyta yang
ingin meninju mereka. Aku selalu saja mengalah ketika ada hal yang seperti ini.
Bagiku tak penting melayani orang-orang tidak berpendidikan seperti mereka.
“Ayy
kamu nih, ngalah terus sama mereka. Lawan dong sekali-kali,” Nisa ikut
berpatisipasi mendukung Dyta. Aku hanya tersenyum dan segera membalikan badan
menghadap ke depan ketika Bu Zepo masuk.
Pelajaran
mencekam penuh keringat dingin, seperti perang antar saudara. Mata Bu Zepo
mengawasi mata kami satu-persatu. Kemudian ia memanggil salah seorang siswa
paling belakang.
“Dimas...
Coba kamu kerjakan soal Matematika latihan 2 di papan tulis,” Dimas diam seribu
bahasa. Bukan karena tidak bisa, melainkan materinya saja belum di jelaskan.
Agil sang master Matematika pun menggaruk kepalanya yang tak gatal.
“Bisa
gak? Malu lah kamu tuh anak guru di SMA ini. Kakak kamu masuk UI, Ibu mu udah
S3. Kamu kok bodoh ya?” Bu Zepo menyindir Dimas. Dimas memang tidak pernah
pintar dalam pelajaran umum seperti ini. Tapi ia pintar dalam hal karya tulis
ilmiah (KTI).
“Agil..
Bisa tolong kerjakan? Nanti Ibu ajarin,” Bu Zepo beralih ke mata Agil. Agil
hanya mengangguk dan menuruti perintah Bu Zepo.
“Permisi
Buk, saya cuma mau nyampein. Besok kelas ini dipake buat acara perpisahan kelas
12. Jadi sehabis pelajaran Ibu tolong dibimbing semuanya buat pindahin kursi
sama meja nya ke gudang,” Maam tiba-tiba mengejutkan kami dari balik pintu.
Jadilah
kami mengangkat satu-persatu meja dan kursi kami. Aku yang paling bersemangat
untuk hal seperti ini. Jujur saja gebetan di sebelah kelas juga pasti akan
keluar. Dan walau hanya kilatan mata yang tampak, itu tak memudarkan
semangatku.
“Yu..
liat sebelah kanan mu. Ada si Haris Yu....” Fadli teman sebangku Haris
berteriak jelas di muka umum. Aku langsung bergegas kembali ke kelas tanpa
sadar aku menabrak Haris. Aku menutupi muka ku dengan tisu yang secara ajaib
ada di genggaman tanganku.
“Oy,
kerjaan belom selesai udah maen nyelonong ke kelas,” Apri berteriak sambil
mengejar ku.
“Bentar
Pri. Gue mau ambil HP di tas. Ntar ilang lu mau ganti?Hah!” aku segera berlari
menuju tas ku. Dan memang benar HP ku sudah tak ada disana. Tapi aku tetap
tenang, karena sudah ku pastikan teman-temanku sendiri yang menyembunyikannya.
Setelah
selesai mengangkat kursi-kursi itu. Kami sekelas pindah ke ruang atas. Mereka
semua bersorak. Kenapa? Karena di atas pastilah jarang belajar. Dan mereka akan
bermain kartu, berlari ke luar kelas semaunya.
“Yu..
Maen kartu yok.” Edwin berteriak ketika aku baru saja masuk ke dalam kelas.
“Nah
kan sudah kuduga... Yasudah ayok.” Seakan tak perduli dengan gender ku yang
hanya sendirian diantara para cowok aku melemparkan kartu-kartu itu dengan
bangga.
Sebelum
pulang, aku menyempatkan bertanya kepada Nisa ataupun Nia, Dyta sudah
kupastikan menggeleng dengan polos nya. Andini malah sibuk menyombongkan barang
baru nya. Terkadang hal-hal menyombongkan seperti ini yang sering membuat ku
geleng-geleng kepala.
“Ah.. Yaudah deh aku mau pulang ya.” kulihat mereka saling berbisik. Krisna mendatangi ku dan memberikan HP ku.
“Ah.. Yaudah deh aku mau pulang ya.” kulihat mereka saling berbisik. Krisna mendatangi ku dan memberikan HP ku.
“Kok
gak kaget sih, atau cemas gitu? Lagian kamu HP kok di tarok di mana-mana,” aku
hanya tertawa. “Ngapain cemas weh. Siapa jugak yang mau HP merek cina gini.”
“Kepada
Kak Ayu kami persilahkan untuk membagikan selebaran materi FK kepada mereka,”
Eka menyuruh ku untuk membagikan selebaran yang sudah kami fotocopy.
Aku
menyadari Eka menyuruhku hal itu. Tapi ntah kenapa tulang ekor ku seperti sudah
menempel di kursi ini. Mau tak mau Nina segera ambil tindakan seraya mencubit
lenganku.
“Lu
kalo mau nostalgia, sono dikelas lu. Jangan disini.” aku hanya tersenyum. Nina
segera membagikan itu dengan cepat dan dibantu dengan Ego.
“Baiklah.
Sekian promosi kakak. Semoga banyak yang mau masuk FK ya,” Nina tersenyum dan
Eka menarik ku dari tempat duduk. Aku berdiri dengan terseok, wedges yang
menganggu pikirku.
Ketika
aku berada di depan, mata ku menerawang jauh ke arah kursi yang ku duduki tadi.
Tertulis ‘Ayu XI mia 4.’ Aku mengedipkan mata ku, tetapi lagu yang kuputar ini
semakin memenuhi isi kepala ku.
Tak pernah kita pikirkan untuk perjalanan
ini.
Tak usah kita pikirkan wujud
perjalanan ini.
Dan tak usah kita pikirkan untuk
perjalanan ini.
“Baiklah.
Selamat pagi. Semoga sukses ya, Dik.” sebuah lambaian tangan dari bayangan ku
yang sedari tadi duduk mengobrol. Tak terasa aku sudah melangkah jauh kedepan.
Masa lalu memang bertujuan untuk mendewasakan ku. Tapi tak harus aku berlarut
di dalam kerinduan di atas putus asa yang sedang melanda.
Sahabat
dan masa sekolah ada salah satu masa lalu itu. Mereka yang membuat ku dewasa,
terbiasa dengan keegoisan, dan keterbatasan yang melanda. Aku segera menyeka
air mata yang mengaburkan kacamata ku. Menyusul Eka, Nina dan Ego.
Duh.. sayang ya skkrng jadi mahasiswa keperawatan bukan kedokteran. Tapi nggak papa teteap jadi medstud wkwkwk
BalasHapus