AKU,KAMU TAK PERNAH JADI KITA




                Malam itu ayah ku terbaring di ruangan yang penuh dengan alat pengukur detak jantung, berpacu detak demi detak agar bisa berjuang untuk hidup. beberapa ada yang hilang kemudian kembali lagi detaknya, namun ada yang hilang untuk selamanya. Namun aku yakin bahwa ayahku bukannlah seorang yang akan kalah dengan bunyi-bunyi detak seperti itu.
                Aku keluar dengan tergesa-gesa ke luar ruangan sambil menemui ibu ku yang sedang terduduk dipojokkan, merenung, memikirkan dambaan pujaan hatinya yang sedang tak berdaya di dalam sana. Aku meminta izin pulang karena waktu sudah measuki maghrib. Seperti biasa aku hanyalah penikmat Go-Ride di siang hari dan perindu Go-Car ketika malam tiba.
                Terenyuhku ketika pria itu menelpon ku meminta izin untuk menunaikan ibadah dulu. Aku hanya terkesima dengan watak nya dalam satu suara itu. Kumenunggu ia didepan rumah tuhan ini. Berdesakan dengan penuh semangat ia kembali mengirimku pesan agar tetap menunggunya. Tenang saja wahai pria, aku akan dengan sangat senang hati menunggu mu, untuk melihat seberapa bisa aku jatuh cinta padahal belum bertemu.
                Sambil kembali handphone ku bergetar, terlihat nama pacarku. namun aku mengabaikan nya malah aku kembali ke menu Go-Jek ku. Melihat nama yang tertera berulang-ulang. Kuketikkan namnya dengan lengkap di sosmed yang kupunya hanya untuk mengetahui apakah ia adalah seorang yang beristri atau belum. hahaha, pikiran yang jahat namun aku sedikit trauma.  Terdaftar dengan jelas ia adalah mahasiswa sriwijaya semester terakhir. dan jelas ia berada di teknik. namun pikiranku buyar kembali ketika pria ini kembali menelponku, kepalaku berputar mencari keberadaan yang sebenarnya berada didepannku. “Hello, kamu yang pakai kaos biru ya?” Kemudian pria itu memutar balik badannya dan melihatku dibelakangnya membawa sekotak barang yang berisi cucian. Ia tersenyum dan menghampiri ku seolah kami sudah saling mengenal, aku bisa merasan harum tubuhnya, seperti dejavu.
                Sambil buru-buru ia berlari kencang untuk melajukan mobilnya, dan membukakkan pintunya untukku. Seperti seorang ratu pikirku. Sebuah sapaan ramah layaknya supir Go-car yang takut terkena rating kecil. Kupikir hanya basa-basi belaka. Obrolan sepanjang 13 KM yang membuat kami saling mengenal ini seolah tak mau kuhentikan. Ia bertanya seperti seorang teman, menasihatiku seperti kakak kandungku, dan menatapku bukan seperti supir –penumpang biasa. 


                Kaki ku bergetar hebat entah karena suhu yang dingin  atau karena malam ini bersama ia namun jantungku berpacu kuat. layaknya panah yang meluncur dengan cepat dan menancap dengan tepat, malam itu cupid kembali memanahkan nya di dalam mobil ini. Seketika hujan lebat turun. Pembicaraan kami semakin bervolume, musik dimatikan, handphone di letakkan. Namun matanya dan mataku saling bertatapan, sesekali melemparkan pandangan ke luar jendela untuk menarik nafas dalam-dalam karena lelah tertawa bersamanya terus menerus sepanjang 13 Kilometer. jika saja rumah ku 26 kilometer kami pasti sudah mati didalam mobil ini karena kehabisan nafas. bukan jarak yang singkat untuk membicarakan segala hal. Mulai dari hal kecil sampai spesifik, dari jaket hingga mantan dan keluarga nya. semua di jadikan bahan obrolan.
                Doa ku setekad ketika ku sedang ujian nasional ataupun ujian cpns, tersenyum seperti mendengar lulus dari tes tersebut dan sebulat tahu bulat. Sayang, pertemuan kita terlalu hebat, pertemuan kita sudah menghabiskan seluruh pembicaraan hingga tak tau apalagi yang harus dibicarakan. Ketika sampai di rumah kita berdua masih tertawa tak mau berhenti. Tubuhku kaku karena dinginnya malam. Tak mau beranjak dari kursi mobil ini. Namun ia membukakkan pintu mobil lagi untukku. Menjadikan ku ratu kedua kali nya dimalam ini. Terimakasih wahai supir Go-Car terindah, terimakasih atas malam nya yang paling indah, kau lah pengatur suhu tubuhku. Kau juga selera humor yang paling ingin kudengar (lagi). Dan aku akan merindukan malam ini.
                Kupikir malam itu adalah malam pelipur lara ku saja, hanya kiasan belaka. Dia pria yang tak mungkin kudapatkan pikirku. Hari- hari terlewat, aku kembali memesan Go-Car berharap namanya yang kembali muncul. Oh tidak, keberuntungan bukan milikku malam ini. Aku bergumam sepanjang 13 Kilometer, membayangkan jika saja yang duduk didepan sana adalah dia. Kemudian aku teringat nomor handphone nya. Segera ku save dengan embel-embel kakak didepan namanya. Line dan WA kami segera menjadi kontak. Jempol ku bergetar hebat seakan ingin menegur duluan, namun ego masih mengalahkannya. Ah, tidak kenapa jempolku memilih stiker itu untuk dikirimkan di Line nya.
                Oh tidak aku takut, aku takut pembicaraan kami tak seseru yag asli, aku takut pembicaraan kami menjadi garing khalayak kerupuk mang ujo. Kupikir ia sudah melupakannku namun tidak, ia jua merespon chat ku. Oh tuhan keberuntungan seketika kembali. Hari- hari ku dipenuhi dengan dirinya, bahkan aku melupakan pacarku yang sangat setia. Ketika malam kami terlelap,lelah setelah chat bersama,  namun subuh menjadikan itu indah, aku dan ia kembali berbicara hal yang penting bagiku, namun tidak baginya. Aku selalu bertanya, dan kau menjawab. Aku mengharapkan kau juga bertanya. Berharap kau pun ingin tahu tentangku, tentang hariku dengan adanya dirimu. Namun aku tahu kau bukan lah tipe orang yang seperti ini.
                Sebenarnya aku membenci diriku sendiri ketika sedang jatuh cnta, Otakku berpikir dengan sangat keras untuk mendekati mu, mencari tahu tentang keluarga mu, asal mu, dan hal yang tak penting. Aku berusaha untuk bersikap biasa saja namun khalayak angin yang selalu bisa menembus celah terkecil, itulah pikirannku terhadapmu. Selalu hadir ditengah aku sedang bersama pacarku. Berhasil mengoyak jantungku menjadi segar berkali-kali. Bahkan Jika kau membalas obrolan ini aku berulang kali mecari di mbah google hal apa yang harus dibicarakan Scorpio yang cuek sepertimu.
                Saat aku mendengar cover lagu yang kau mainkan, jantung ku berdegup kencang. Aku takut, Aku segera mematikan lagu itu, takut paru-paru ku tak sanggup menarik nafas kembali. Aku mencari artis mana yang kausukai, melihat band dan lagu jenis apa yang kau suka. Bahkan aku berusaha untuk menghapal lagu Fourtwnty – zona nyaman yang terdengar di snapgram milikmu yang sebenarnya bukan tipe lagu ku. Namun aku merasa sesak ketika aku ketahuan meng-kepoi akun instagram mu. Dan ini rasanya seperti angin tadi berubah menjadi tsunami yang sangat besar, menghantam raga, meluluhkantakkan jiwa segera meruntuhkan air mata ku. Kita kembali seperti tak mengenal. Seperti orang yang salah nomor, jawabmu hanya iya dan tidak. Aku bingung dan tak tahu harus bagimana. 


                Jika saja aku sadar bahwa pertemuan kita adalah suatu keberuntungan bagiku, Jika saja aku tak terburu-buru untuk mengenalmu lebih jauh.Ku dengar kembali rintikan hujan didalam mobil Go-Car, mendengar jatuhan air dari rel LRT diatasku dengan kencang. Namun aku tak bisa mendengar kau memanggilku lagi walau hanya didalam chat belaka. Saat aku bertemu dengan kau aku masih tidak tahu bagaimana perasaanku terhadapmu, namun ketika kau menghilang, mengambil sepenuh rasa ingin tahuku. Aku merasa kau sudah mengukir nama di hatiku. Aku terlalu sibuk tertawa dan menangis dan juga aku terlalu sibuk mencari apa yang kuperlukan. Kau pasti akan lupa, siapa nama yang seminggu ini sudah menemanimu. Perlahan namun pasti. Ternyata kau adalah keberuntungan yang paling ingin kusimpan, ternyata kita pernah hampir jatuh cinta. Tapi sekarang aku tak berhak untuk meneteskan air mataku untukmu lagi. Karena kau akan segera pergi, terbang melalang buana, dan menemui wanita  yang menjadi takdirmu.  
Hai wanita yang menjadi takdirmu, kau sangat berutung mendapatkannya. Tolong, jaga keberuntungan ku itu.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

KITA

Arab Gila

Sebagai teman terbaik