Sebelum 'kita' pergi
6 tahun aku kenal dirimu sayang, bahkan hampir 7 tahun. Apa kau masih menganggap ini adalah jalinan pertemanan? Tak pernah kah kau sadar akan diriku yang selalu ada ketika hati mu kosong. Namun terbuang layaknya tong penuh yang kau isi dengan sejuta tawa menghibur. Setiap hati mu kosong ada aku, ingat.
Kau selalu bersikap seperti seorang kekasih, sayang. Namun aku hanyalah teman yang selalu canggung jika berada di dekatmu.
Kau tertawa, memunculkan lesung pipi mu. Tersenyum sambil menepuk pundakku pelan. Panggilan sayang yang selalu kau ikut sertakan. Tapi, akankah kau tahu aku terlalu bodoh untuk mengartikan semuanya adalah rasa cinta.
"Aneh, aku malah cemburu setiap kau dekat dengan wanita lain.
Aneh, aku ingin kau selalu ada disisi ku setiap saat.
Aku benci jika kau hanya menjadikanku persinggahan mu, namun aku juga rindu akan percakapan itu."
Karena malam ini adalah saat terindah bagiku. Kau datang jauh-jauh dari rumah mu demi datang menjenguk mama ku. Merangkul ku, memeluk ku hingga berlari dan berkejaran dengan ku.
Seakan itu hanya alasan, dan kau seperti merindukanku. Saat kita membicarakan hal lama dan baru seakan kita adalah teman lama yang baru saja bertemu lagi. Memang hatimu yang begitu, sedang aku tidak.
Ketika kau datang aku berharap kau membawa hal baik untuk ku, ah, bukan maksudku untuk kita. Nyata nya sama seperti pertama kali kau datang, memberi tahu ku wanita pengisi hati mu yang baru.
Hai, kau. Aku yang hanya persinggahan mu memang sangat tak pantas untuk bertahan; bahkan untuk memiliki harapan bersamamu.
Karena nggak ada yang lebih bodoh selain aku yang tetap merindu meski sebuah kebohongan.
Gak ada kata yang lebih munafik selain "aku ga mau pacaran sama temen sendiri, nanti putus nya malah ga jadi temen lagi."
Ingat kah kau? Selepas kau pergi, aku memantaskan diri ku untuk orang lain. Dan kau juga. Namun drama klasik itu terulang lagi. Kau bercanda dengan ku seolah kau tak perduli dengan adanya pacarku, dan kau berfikir aku tak perduli dengan adanya pacarmu. Oh tidak. Aku sangat khawatir itu.
Kau tak tahu betapa berat nya hidupku saat kau tak ada. Bahkan ketika kau ada disampingku. Kedua nya sangat berat. Hari-hari ku dipenuhi kebohongan belaka; berbahagia dengan pacar ku sekarang. Tubuhku selalu bergetar setiap memanggil namamu. Kau yang tuli tak pernah mendengar ku atau kau memang tak pernah memanggil ku lagi? Hingga angin pun selalu menerbangkan teriakan ku ke alam tak berujung.
Aku benci menerima kenyataan bahwa aku belum rela melepasmu. Aku belum siap sakit lagi melihat kau bersanding dengan gadis lain selain aku.
Apakah gadis mu itu sudah cukup untuk memenuhi hati mu yang kosong itu? Jika ya, maka aku mohon berilah aku jarak lagi, hingga aku bisa melupakan mu sebentar; walau hanya ketika aku tertidur. Ketika aku terlalu capek untuk memikirkan mu.
Berilah aku kekuatan lagi untuk bisa menerima kenyataan bahwa perjuangan ku tak ada artinya. Dan beritahu aku untuk menjauh dari mu, kumohon hentikan drama ini.
Tunggu aku ingin memberimu kado terakhir ku, semoga kau selalu berbahagia dengan gadis mu dan aku berbahagia dengan pria lain.
Izinkan ku sejenak memeluk mu lagi; yang terakhir, dan menghirup udara sesak dan hampa tanpa mu. Aku bisa. Pergilah kau, bawa kenyamanan yang kau beri padaku. Aku sudah kembalikan itu lewat pelukan ku tadi.
"Sekarang canggung sudah tercipta. Jarak menjadi semakin menjauh karena kesalahanku. Kesalahan karena terlalu salah menerjemahkan rasa itu. Maaf"
Hingga sekarang, gadis bodoh ini seakan tak tahu malu masih menjadi bayanganmu hingga akhir, dan tak pernah berada di depan mu, disamping mu terutama hati mu.
Kau selalu bersikap seperti seorang kekasih, sayang. Namun aku hanyalah teman yang selalu canggung jika berada di dekatmu.
Kau tertawa, memunculkan lesung pipi mu. Tersenyum sambil menepuk pundakku pelan. Panggilan sayang yang selalu kau ikut sertakan. Tapi, akankah kau tahu aku terlalu bodoh untuk mengartikan semuanya adalah rasa cinta.
"Aneh, aku malah cemburu setiap kau dekat dengan wanita lain.
Aneh, aku ingin kau selalu ada disisi ku setiap saat.
Aku benci jika kau hanya menjadikanku persinggahan mu, namun aku juga rindu akan percakapan itu."
Karena malam ini adalah saat terindah bagiku. Kau datang jauh-jauh dari rumah mu demi datang menjenguk mama ku. Merangkul ku, memeluk ku hingga berlari dan berkejaran dengan ku.
Seakan itu hanya alasan, dan kau seperti merindukanku. Saat kita membicarakan hal lama dan baru seakan kita adalah teman lama yang baru saja bertemu lagi. Memang hatimu yang begitu, sedang aku tidak.
Ketika kau datang aku berharap kau membawa hal baik untuk ku, ah, bukan maksudku untuk kita. Nyata nya sama seperti pertama kali kau datang, memberi tahu ku wanita pengisi hati mu yang baru.
Hai, kau. Aku yang hanya persinggahan mu memang sangat tak pantas untuk bertahan; bahkan untuk memiliki harapan bersamamu.
Karena nggak ada yang lebih bodoh selain aku yang tetap merindu meski sebuah kebohongan.
Gak ada kata yang lebih munafik selain "aku ga mau pacaran sama temen sendiri, nanti putus nya malah ga jadi temen lagi."
Ingat kah kau? Selepas kau pergi, aku memantaskan diri ku untuk orang lain. Dan kau juga. Namun drama klasik itu terulang lagi. Kau bercanda dengan ku seolah kau tak perduli dengan adanya pacarku, dan kau berfikir aku tak perduli dengan adanya pacarmu. Oh tidak. Aku sangat khawatir itu.
Kau tak tahu betapa berat nya hidupku saat kau tak ada. Bahkan ketika kau ada disampingku. Kedua nya sangat berat. Hari-hari ku dipenuhi kebohongan belaka; berbahagia dengan pacar ku sekarang. Tubuhku selalu bergetar setiap memanggil namamu. Kau yang tuli tak pernah mendengar ku atau kau memang tak pernah memanggil ku lagi? Hingga angin pun selalu menerbangkan teriakan ku ke alam tak berujung.
Aku benci menerima kenyataan bahwa aku belum rela melepasmu. Aku belum siap sakit lagi melihat kau bersanding dengan gadis lain selain aku.
Apakah gadis mu itu sudah cukup untuk memenuhi hati mu yang kosong itu? Jika ya, maka aku mohon berilah aku jarak lagi, hingga aku bisa melupakan mu sebentar; walau hanya ketika aku tertidur. Ketika aku terlalu capek untuk memikirkan mu.
Berilah aku kekuatan lagi untuk bisa menerima kenyataan bahwa perjuangan ku tak ada artinya. Dan beritahu aku untuk menjauh dari mu, kumohon hentikan drama ini.
Tunggu aku ingin memberimu kado terakhir ku, semoga kau selalu berbahagia dengan gadis mu dan aku berbahagia dengan pria lain.
Izinkan ku sejenak memeluk mu lagi; yang terakhir, dan menghirup udara sesak dan hampa tanpa mu. Aku bisa. Pergilah kau, bawa kenyamanan yang kau beri padaku. Aku sudah kembalikan itu lewat pelukan ku tadi.
"Sekarang canggung sudah tercipta. Jarak menjadi semakin menjauh karena kesalahanku. Kesalahan karena terlalu salah menerjemahkan rasa itu. Maaf"
Hingga sekarang, gadis bodoh ini seakan tak tahu malu masih menjadi bayanganmu hingga akhir, dan tak pernah berada di depan mu, disamping mu terutama hati mu.
Komentar
Posting Komentar