ILY




          “Tetaplah menjadi sumbu lampu yang jika aku bakar kalian akan menerangi ku. Akan kuhidupkan setiap kali hatiku merasa kelam, membutuhkan kalian. Kuharap kalian tetap seperti ini.”

          Mungkin semboyan “berbeda-beda tapi tapi tetap satu” itu bisa kita rasakan. Namun andai aja aku bisa sadar itu sedari dulu. Tak pandang asal sekolah, tak pandang asal agama, tak membedakan mana hitam dan putih. Kita bersama-sama membiarkan diri kita menjadi korban. Permen tergantung, tas karung, lautan hijab berwarna, kalung nama bahkan coklat sudah kita lewati.
Walaupun pada akhirnya kami dibedakan menjadi kelas unggulan dan kelas proses. Kenapa aku menyebutnya proses? Ya, kita memang sedang berjuang. Karna akhirnya baik kelas unggulan ataupun kelas proses menginginkan sukses bukan?
         
          Disinilah aku. Berada di ruang dimensi 3, dengan meja dan kursi, saling berlomba menjadi yang terdepan dan terhebat. Mengingat kata demi kata 40 orang ini. Aku mengakui jika aku cepat mengingat nama mereka, namun aku tak secepat itu bisa membaur dengan mereka. Himpunan-himpunan yang berbeda semakin mendesak ku untuk memilih berada dimana. Kenakalan yang tak terduga pun muncul, seolah memang di sodorkan dan aku pun menelan nya telak.
          Sempat terpikir oleh ku kenapa harus aku berada di sini, kenapa tidak bersama orang yang berasal satu sekolah ku dulu. Kenapa kami harus bercampur, apakah tidak bisa aku menjadi bilangan yang berdiri sendiri. Bahkan ketika 30 hari itu menjadi singkat dan Juli semakin mendekat kenapa aku malah terjebak di himpunan yang aku sendiri tak tau kapan aku mulai menjadi bagian dari mereka, entah perkataan apa yang sudah menjadikan kami himpunan. Aku tak tau pasti namun aku sadar berada di dalam himpunan itu menjadikanku pribadi yang tau kapan harus tertawa, kapan harus ikhlas dan kapan harus bersabar.
          Libur kenaikan kelas pun tiba. Satu hal yang masih menjadi legenda ketika libur datang. Ketika sekolah berlangsung, aku inginkan pulang cepat dan libur panjang. Namun ketika libur aku merindukan sekolah, oh tidak aku merindukan mereka wahai sahabatku. Ketika kelas proses diacak kembali, sedangkan kelas unggulan tidak sama sekali. Disitu aku merasakan nyali ku diuji lagi untuk ke dua kalinya. Aku diuji untuk membaur lagi dengan anggota baru dan ‘terpaksa’ membentuk himpunan yang baru.

          “Mau darimana asalnya, Science atau Social. Kita itu sama-sama berawal dari ‘S’ dan menuju ‘Sukses’.”

          Oh tidak, ini semakin menggila. Aku bisa melompat kesana dan kemari namun tidak sendirian. Ada mereka yang juga ikut menemani. Satu pack kartu dan satu botol bedak bayi menjadi teman ketika sang guru tak ada, saling mengoleskan bedak itu di muka anggota lainnya. Terkadang usus berkontraksi ketika jarum pendek di angka 10. Salah satu meja menjadi saksi pertumpahan kuah mie dan kuah model. Kadang meja ini bisa menjadi bantal yang sangat empuk. Atau menjadi saksi bahwa di situ pernah menjadi kisah yang telah usai nantinya. Bahkan lantai ini pun menjadi saksi kami menginjak nya penuh suka cita, penuh gelak tawa yang walaupun terulang tak akan sama lagi rasanya.

          Juli menjadi bulan yang selalu dinanti bagi segelintir mereka yang belum merasakan nikmat menjadi bagian dari himpunan. Libur itu kembali datang namun aku pun tak terlalu nafsu menikmatinya. Aku menelan liburan itu hanya sebatas air penyegar dahaga sebelum aku melahap kembali buku pelajaran yang semakin menumpuk. Kali ini awal masuk sekolah tak lagi sama. Ada rasa penasaran hebat, keringat mengalir ketika menunggu nama orang yang sekelas bersama ku. Oh tidak, dia orang yang kusukai ketika kelas yang lalu sekarang harus berada dalam satu kelas. Buku itu kulahap kembali menjadi  butiran molekul bahkan atom menjadikannya unsur lalu senyawa. Menjadi pelucut agar aku melesat.
          90 hari menjadi waktu yang teramat singkat, himpunan itupun belum sempat terbentuk. Lagi-lagi kami terpisahkan karena Ekonomi dan Geografi. 90 hari itu memang waktu yang singkat namun kami, ya mungkin kami merasakan begitu. Bagi sebagian orang ada menyikapi nya dengan biasa, atau bahkan dramatis hingga mutiara dari pelupuk mata itu jatuh.

          Aku menganggap pertukaran siswa Eko dan Geo biasa saja. Toh, aku masih bisa bercengkrama dengan mereka. Ya, wajar saja kami berada di kotak U yang saling berdampingan seperti kontrakan. Yang gak enak nya itu pas kita putus terus mau ke toilet harus lewat depan kelas si-ex itu rasanya menggoda banget untuk mengintip. But, buat mantan aku makasih banget loh untuk waktu 1 bulan 13 hari nya, nanti kapan-kapan aku gantian traktir kamu ya. Semangat ngedit CAS nya, semoga perasaan aku gak muncul ketika ngedit bareng. Btw, kalian ngerasa gak sih guys. Besok kita udah UN... Yeayy.

          “Kita sedang bahagia, jangan pernah biarkan waktu menerka akhirnya. Mungkin saja besok,mungkin saja lusa.”

          Hey inget gak seminggu ini kita gak belajar, yang rajin sih masih belajar biar gak ada guru. Lah kita nonton film kungfu panda, Surga yang tak dirindukan,dll. Sebelum nonton kita kekantin, pada bingung mau beli apa soalnya udah bosen sama menu kantin yang gak berubah-rubah. Model kanting tengah ,Pop Mie, Mie Tumis Yuk Dewik, Cireng kak putra, Cilok, banyak lagi deh. Tapi udah dicicip semua jadi bosen.
          H-7 kita upacara, sebut saja yang terkahir. Selfie bertebaran, langit menjadi teduh seolah menginginkan kami untuk tetep berada di lapangan penuh debu itu. Inget perjuangan pas H-4 kemaren, sampe bentrok nyari kunci. Menurut gue disitu diuji kesolidaritasan sesama temen yang mana memang temen yang mana temen pas butuh doang. Terus pas hari Jum’at H-2 kita ngadain yasinan. Haru sambil menitihkan air mata, saling berpelukan, saling memaafkan, memohon kepada Tuhan agar diberi kelancaran.

          Akhirnya dongeng yang sudah kita bangun, kita hancurkan, kemudian kita susun kembali menjadi lembaran baru itu mencapai halaman terakhirnya. Skenario memang kita yang buat, tapi Tuhan yang tentukan kapan itu berakhir.
          Aku hanyalah sang pemakai waktu yang tidak akan habis, namun waktu yang telah dibagi bersama kalian telah usai. Baru kali aku melihat waktu yang habis bersamaan. Tak ada kata pisah, namun mengapa ini menyesakkan.
          Kita memulai nya disini, merasakan manis dan pahitnya disini, menjadi putih atau abu diri kita berasal dari sini, meletakkan usaha bersama disini, hingga kita lulus dari sini. Aku harap kalian juga merasakan apa yang aku rasakan teman. Yaitu bersyukur menghabiskan waktu 33 bulan ini tanpa sia-sia dan mendapatkan pengalaman hebat bersama kalian, guys!

          Baju, buku, pena, tas, sepatu segalanya mampu dibeli dengan uang. Ketika kupakai, aku bingung kenapa ini rasanya tak sama. Ada satu yang tertinggal tak dapat kubeli dengan uang karena itu sudah milik-Nya. Yaitu kebersamaan.”

Komentar

Postingan populer dari blog ini

KITA

Arab Gila

Sebagai teman terbaik