Berusaha Melepaskanmu



       Aku mengenalmu, begitu pun denganmu juga sama mengenal ku. Tapi hanya sekadar "tau" tidak lebih. Semua berawal dengan tidak sengaja, di saat aku menunggu jemputan di depan gerbang SMA, aku duduk di pinggir gerbang sambil ditemani mu dan teman mu. Detik, menit bahkan sudah 1 jam lebih pembicaraan ini semakin mengalun dengan mudahnya. Bahkan aku pun langsung menjadi akrab dengan mu. 
Beberapa menit kemudian teman mu itu langsung pulang. Tinggal kamu dan aku. Disini. Di depan gerbang SMA.
     Keesokan harinya sepulang sekolah, kamu menunggu di depan kelas ku hanya untuk bertukar pin BBM. Awalnya pembicaraan ini ku mulai dengan perasaan tenang tak ada rasa apapun. Kita membicarakan hal sepele seperti menanyakan nama, asal SMA hal yang sudah kuketahui jawabannya tapi malah terlihat sangat mengasyikan.
      Kehadiranmu membawa angin baru. Angin yang sudah lama ingin kurasakan. Seperti ada hal yang berbeda yang kau tawarkan kepadaku. Hati ku mulai terbuka lebar untuk menerima mu. Mata teduh mu, tawa garing mu, badan mu yang terlalu kurus semua itu membuta kan ku. Setiap hari ada saja yang kita bicarakan, masalah keluarga, teman, keanehan masing-masing seperti aku takut kecoak dan kamu tidak suka dengan alpukat sampai pada topik teraneh yaitu: cinta.
     Aku masih ragu, sangat ragu. Karena baru kali ini aku merasakan detak jantung yang berbeda. Yang aku yakin jika aku tidak sedang ujian, aku pasti sudah tidak masuk sekolah karena terlalu berbunga-bunga nya. Aku ragu karena selama SMA aku tidak berani untuk memulai suatu hubungan, tetapi ntah kenapa hanya dia yang kusetujui.
     
     Hal-hal yang belum pernah kulakukan berdua kini menjadi selalu di kenal sebagai kita. Bukan hanya dalam hal yang besar, tapi juga hal sederhana, makan di kantin dan sholat berjamaah. Bahkan jogging yang biasanya kulakukan sendiri di sekitaran komplek perumahan kini untuk pertama kalinya untuk kita berdua jogging di lapangan. Hal konyol pun terjadi. Kita berputar-putar mencari tempat parkir, hingga jadilah motor yang berlarian. 
    Setiap pulang sekolah yang biasanya aku on time, menjadi delay. Hanya sekadar mencari tau satu sama lain, mencari ikatan di dalam hati kita yang belum seutuhnya menyatu. Saling mengeratkan pelukan untuk menenangkan hati. Ya, untuk pertama kalinya pelukan setenang itu, bahkan aku masih merindukan pelukan itu. 
     Di saat aku ada masalah, kamu lah yang menenangkan ku. Di saat kita makan berdua kamu yang selalu bertanya aku ingin makan apa, hanya karena takut kamu salah memilih makanan. Bahkan rasa bosan yang sudah menjalar ditubuhku sekarang tertebas oleh perhatian mu. Semakin lama semakin aku yakin bahwa dia adalah yang terakhir untukku.

 "Aku percaya kamu takkan membuat ku sedih dan kamu takkan menjadi alasan air mataku. Aku percaya kamu adalah angin sejuk disaat musim panas, dan angin kehangatan disaat musim hujan. Aku sangat mempercayaimu. Sangat! Dan itulah kebodohan yang kusesali."

    Aku masih ingat ketika aku mengantar temanku ketempat parkir tiba-tiba hujan deras dan tanpa aku tau kamu sudah menutupi ku dengan jaket Levis mu. Kemudian, ketika notebook ku menjadi error. Semampu mu menguatkan ku agar tenang, mengajak ku untuk ke tempat service. Menemaniku hingga bantuan dari teman mu datang. Apa kamu masih ingat? ah yang paling kecil saja. Ketika awal kenal aku minta dibelikan es susu putih?

     Tapi tahukah kamu? Meski kita tak pernah ada masalah aku masih menyimpan sejuta pertanyaan. Hingga pertanyaan itu dengan sendiri nya terucap ketika sedang santai.
  "Kenapa kamu suka aku?"
  "Bukankah aku gak lebih baik dari mantan mu yang kurus cantik pintar dan serba lebih itu?"
  "Aku masih gak nyangka loh kita bisa pacaran"
Memang hanya pertanyaan aneh tapi ntah kenapa kamu seketika terdiam. Mungkin disitulah awalnya. Awal dari sebuah perpisahan.

     "Aku sedang berada di tempat yang sama, dengan perasaan yang sama, tapi tak sama angin nya. Karena ini tanpa kehadiranmu" 

     Sebenarnya tak ada rencana ku ingin mengakhiri semuanya. Saat hati ini saling membara dan semakin sayang, saat perhatian kecil menjadi candu dalam kehidupanku. Tapi, bukankah prediksi manusia tak ada yang pasti? Perpisahan harus terjadi untuk pertemuan awal yang sangat indah.Dengan segala ketidaksiapan ku untuk menyambut perpisahan itu. Aku harus siap untuk melepaskan mu.

    Awalnya kupikir pertanyaan aneh ku tadi tak berdampak apapun karna kamu menjawab dengan cara menyakinkan ku. Bahkan aku mengetahui bahwa alasan perpisahan ini adalah pertanyaan yang sudah kulontarkan yang kuucapkan 1 bulan 16 hari lalu. Semua berjalan dengan cepat, sapa manja mu, tawa renyahmu, cubitan di pipiku yang menjadi rutinitas mu dan segala hal tentangmu yang berhasil memformat isi otak ku. Memenuhi nya. Dan aku harus berusaha membuang semua itu lagi agar kamu dan kenangan kita diam-diam tak mengendap masuk ke memori otak ku lagi.
   Kita bahagia dengan jalan kita masing-masing. ah tidak hanya kamu yang bahagia, kamu bahagia dengan jalan mu yang lama, dan aku masih tak tau arah jalan pulang aku tanpamu butiran debu *ey maaf malah nyanyi -_-

    Aku hanya sadar diri. Mungkin usahaku masih terlalu dangkal bagimu. Hingga semua orang terdekat ku ceritakan masalah ku tapi tanggapan mereka sama. Tak ada yang membantu. Mungkin karena usahaku inilah yang membuat mu semakin terikat dengan masa lalu mu. Kamu belum bisa melupakan masa lalu mu, disaat aku perlahan pernah mengobati luka itu.

Tahukah kamu bahwa aku masih saja meminta Tuhan untuk menjagamu?
Tahukah kamu disetiap doaku masih terselip nama mu?
Jika ini bukan cinta, lalu apa arti disetiap pelukan mu, yang katamu tak ingin melepaskanku? 
Jika ini bukan perasaan sayang, lalu apa arti disetiap panggilan sayang mu kepadaku dulu?
 
    Dan hari ini, sebuah kotak kuberikan padamu yang isi nya memang tidak seberapa hanya penggalan keinginan mu di masa lalu beserta sepucuk surat yang berulang kali aku mengulang nya agar tak salah kamu menilai. Sebotol Jus yang sangat kamu tidak sukai tapi kamu sudah berjanji untuk meminum nya di hari ini. Dengan penuh keyakinan aku memberikannya, keyakinan bahwa kamu mungkin akan mengingat apa yang sudah kita lewati. Meski aku tak tau apakah kisah ini lebih bewarna dari masa lalu mu atau malah membuat lebih kelabu. 
    Tenanglah, tak perlu takut aku kecewa jika kau tak meminum jus yang telah kubuat bersusah payah, atau tak membaca surat itu. Hari ini, pengabaianmu juara nomor satu. Kamu berhasil membuat aku yakin. 

   Yakin bahwa cinta mu padaku dulu mungkin tidaklah nyata, perhatian mu dulu mungkin hanyalah cerita fiktif belaka. Tapi yang pasti cinta ku padamu telah terabaikan meski aku telah melakukan berbagai cara. Memang aku yang aneh tidak bisa tak peduli padamu meski kamu telah mengabaikanku.
Tidak perlu berbasa-basi kok dan kamu pasti tahu saat aku berbohong bisa melupakanmu. Aku ingin dekat dengan kesepian saja, disana lukaku mungkin akan terobati.

    "Cepat bisa berarti banyak hal, tapi tidak termasuk cepat untuk membiasakan tanpamu."

      
                                                                                         Dari orang yang kehabisan
                                                                            cara untuk membuat mu tidak kecewa....   

Komentar

Postingan populer dari blog ini

KITA

Arab Gila

Sebagai teman terbaik