LATE FOR KNOWS !
Rabu, 07-01-2015
Tak terbiasa dengan sebuah ajakan.. Memang awalnya aku yang menawarkan.
Memang sudah menjadi kebiasaan ku sedikit rewel dalam memakai hijab. Terutama double segiempat, dengan memakai dalaman topi membuat kesan pipiku terlihat sedikit lebih kurus.
Bermalam-malam aku berharap bertemu dengan nya suatu saat.. mungkin saat sudah di perguruan tinggi. Tapi kurasa aku membutuhkan motivasi bisa jadi semangat dari nya.
Kubuka sedikit tas tangan ku. "Hem nampaknya sudah kupersiapkan semua." Aku tertawa kecil ketika sadar aku bangun lebih awal dari alarm di handphone ku. Kupersiapkan segala sesuatu sampai dikelas pun aku merasa kan getaran itu. Hal yang kutunggu pun akan tiba.. Jam kelas menunjukan pukul 09.50. Ya 10 menit lagi aku akan keluar kelas dan memulai interaksi paling baru dengan sesama makhluk sosial. 2 tahun sedikit lebih tua dariku, bertubuh ideal dan katanya dan nyatanya memang anak Akutansi di salah satu perguruan tinggi negeri di Palembang.
Kuajak kembali teman sebangku untuk menemani kedepan kantor dengan berbagai alasan pastinya. Agar tak terjadi salah paham banyak orang juga Allah. Ku genggam jemari, menguatkan mental ku. Niat baik ku memberikan oleh-oleh tidak boleh gagal. Sedikit tidak yakin dengan perjanjian di depan kantor ini. Namun semakin ramai semakin mengurangi salah paham bukan?? Pertama aku melihat ke arah ruang guru. Hal yang sama akan kulakukan kepada wali kelas. "Maam lagi pergi.." cukup mengecewakan. Dan nyata nya aku harus menunggu di balok kayu itu sendirian.. 1 menit terlewati dengan total 5 guru melintas. 2 orang anak kuliah berjalan mendekati ku, paras nya sering aku lihat namun syaraf otak ku sudah semakin banyak yang terputus. Sudah terlupakan, namun untunglah mereka duluan yang menegur ku. 7 menit terlewati lagi. waktu istirahat semakin berkurang yang artinya semakin berkurang pula interaksi nanti. Aku menghela nafas berat kembali melangkah ke arah utara dengan menjinjing tas bertuliskan I love bandung ku.
*********
Pandangan ku tertuju ke arah perpustakaan yang letaknya tak jauh dari kantor guru. "Kalo gak salah sih ada buku kedokteran atau sejenisnya deh di sini," aku mulai melangkahkan kaki ku memasuki perpustakan itu. Tak terlalu sempurna untuk ukuran sebuah perpustakaan sekolah, lumayan angker namun sangat nyaman untuk berelaksasi atau pun belajar. Ku dapatkan satu buku biologi kelas 3, tak terlalu menarik dari luar namun ah, sudahlah aku di sini hanya untuk meluapkan ke kesalanku sejenak. Aku mengintip melalui kaca yang untungnya memiliki riben hitam agar tak terlihat dari luar. Sedikit udara hangat menghiasi pipi ku. Ku buka-buka buku setebal 287 halaman itu, sedikit tertarik untuk kembali duduk di depan. Mutasi mungkin menarik pikir ku.
Getaran dari HP ku menunjukkan sebuah chat baru. "Arghh.. Pasti masih dirumah." Geram ku ketika membuka BBM. "Adik dimana? Kk sudah di depan kantor," PING PING dan semakin banyak. Kuberanikan diri untuk memunculkan kepalaku dari balik tembok perpustakaan. Sekitar jarak 200 m itu aku bisa melihat seseorang itu duduk di balok kayu tempat aku menunggu tadi. "Hemm.. Biarlah dia sendiri disitu dulu. Biar tau rasanya jadi aku tadi. Menunggu," aku terkekeh pelan. Kemudian segera memberikan kartu perpustakaan untuk meminjam buku biologi tadi. Aku bergegas memasukkan buku itu ke dalam tas jinjing ku. Kuberitahu ia melalui BBM bahwa aku sedang di perpustakaan. Namun sangat disayangkan sedang ceklist. Jadilah aku menunggu saat yang tepat untuk berpapasan dengannya.
Seusai aku berpamitan dengan pengurus perpustakaan, aku menoleh kearah kiri dan tak ada tanda ia berada disana. Sejurus kemudian aku mengarahkan pandanganku tepat di 50 m didepanku ia melintas dengan membawa almamater kuning nya berjalan kearah keluar. Aku yang masih sibuk membenahi sepatu ku yang tersangkut, langsung tersenyum lebar sekaligus malu. Bukan malu karna aku yang nampak kacau, tetapi malu akan pertemuan ini. Deg.. ia menoleh kearah ku sampai 3 kali untuk memastikan kalau itu adalah benar, aku hanya tersenyum dan menunggu ia berbalik arah. Ya dalam sekejap ia langsung berbalik arah menuju balok kayu di depan kantor guru itu. Setelah ia duduk, aku segera menyusul dengan perasaan tak karuan, melihat isi tas ku kemudian bertatap secara dekat dengannya untuk pertama kali.
******
Apa yang terjadi?? Ya kalian tau pasti orang-orang yang lagi LDR, atauSEBASTIAN,
kemungkinan SEBASKATING atau apapun itu? pasti pernah kan ngerasain nya.
Rasanya itu kayak dikejer angsa, dibajak bbm, terus sambil buat pr matematika
dan fisika ditambah lagi gurunya pada killer. Ya gitulah rasanya ngos-ngosan.
Persetan dengan HTS ini.
"Hey, Nih kak oleh-oleh nya," sapa ku terlebih dahulu. "Yeeee.. Makasih adek oleh-olehnya. Darimana emang?" "Ya darimana-mana lahh," aku mulai memutar memori otak ku untuk mencari bahan yang bisa dijadikan bahan obrolan. Dengan waktu yang semakin minim, ditambah dengan arus guru yang semakin berpeluang melihat kami sedang mengobrol, dan satu lagi alumni yang kenal dengan ku. "Kakak sudah kan ambil ijazah sama cap 3 jari?" "Sudah lah dek sudah dari dari lama kakak ambil."
Terlihat Bu Risa sedang mondar-mandir TU - Kantor, lumayan untuk menambah jadwal mengobrol. Tapi, otak ku sudah semakin menyempit dengan memikirkan nya. Ku biarkan ia memulai duluan. Kami mulai membicarakan tentang pelajaran, nilai kami yang sama-sama mendapat nilai B di bahasa Inggris, tentang universitas, alumni yang lulus, menyimpang ke guru, kemudian kembali pada janji makan bakso yang sudah ia janjikan tepat sebelum pengumuman SNMPTN. Ketika jam mulai menunjukkan 11.32 aku mulai risih dengan obrolan yang garing, renyah bahkan tipis banget itu. yang jelas itu sangat-sangat nano double triple bahkan tourism. "Adek ke kelas ya. Ntar ada Bu Risa?" "Mau adek duluan yang jalan, atau kakak duluan atau berbarengan?"
"Terserah di kakak saja," aku bergegas berjalan mendahului nya, karena kulihat tak ada tanda-tanda ia akan menjawab. Ia mengikuti ku dari belakang, namun aku baru sadar ia keluar melewati jalan ruang tamu bukan lurus. Yang berarti ia ke kanan dan aku tetap lurus. Kulihat ia menyembunyikan kantong oleh-oleh itu dibawah almamater nya bersamaan dengan wajah seperti tidak habis melakukan apapun.
Aku mempercepat langkah kaki ku menuju kelas ku yang terletak di deretan kelas luar. "Nah, pintunya ketutup nih. Apa ada guru?" aku langsung masuk dengan muka diam seribu bahasa kemudian dilanjutkan gelak tawa teman-teman sebarisan ku yang tak sengaja tadi melihat aku dan dia mengobrol. "Huftt.. untung aja. Udah 4 kali aku ketemu sama Bu Risa, untungya Bu Risa gak curiga." "Ciee.. Ciee.. Jemuran aja diangkat loh.. kok kamu digantung mulu?" Dyta menyindir ku dengan berbagai pepatah yang dibuatnya sendiri. "Aku juga pernah digantung tapi cuma 1 bulan gak sampe 1 tahun gini," ririn menambahkan. Pipiku semakin memerah. Aku menggeleng. "Sudah semakin baik kok hubungannya, semoga gak lost lagi," aku tersenyum kemudian langsung berbalik ketika Bu Risa masuk dan memberi tugas.
*******************
"Yu, ntar ajalah pulangnya. Gak ada orang dirumah aku," dyta meminta kepadaku untuk menemani nya mengobrol atau makan di taman. Deg. Aku melihat segerombolan kakak-kakak memakai almamater kuning sedang duduk-duduk di pinggiran batu taman. "Ah.. Tak tolong fotoin kakak itu," aku menyerahkan HP ke dyta. Dyta melihat sekeliling kemudian melanjutkan aksinya untuk mengambil foto dia dan seorang perempuan yang kuyakini adalah wanita yang sama ketika aku dan ia bertemu di kantin.
"Erghh.. iyaa modusin aja semua cewek," aku mengepal kan tangan ku. Sembari menemani Dyta makan, aku asyik mengamati nya dari jarak 200 M. Ia tepat di arah utara ku, sedang senang nampaknya. Teman-teman sejurusan nya pun mulai datang mengajak untung berselfie. Aku pun dari jauh turut diam-diam memfoto mereka. "Lumayann... Bisa ditunjukkan, dan meminta penjelasan dengan nya."
Dyta mengambil motornya sementara aku memandangi dia dari arah parkiran motor yang berada di seberang kiri nya. "Yu, naik lah," Dyta menstarter motornya dan perlahan aku menaiki nya. "Kak Rezi.. Duluan kak." Namun karna keasyikan mengobrol dengan temannya yang sekarang kutahu yaitu Dina. Kami berniat keluar dari pintu gerbang 1 namun itu tertutup, terpaksa kami kembali lagi dan harus melihat ia lagi, kemudian kakak-kakak yang lain. Arghh itu memalukan.
******************************
Ketika sampai di rumah aku memulai untuk menginterogasi nya, dimulai dengan jawaban ku yang sedikit cuek ketika ia bertanya jam berapa besok kami makan bakso. Kemudian kukirimkan foto tadi, dan ia mulai menjelaskan dari awal dengan nada meminta maaf. "Itu temen sejurusan kakak dek, sumpah cuma temen dek. Gak lebih. Namanya Dina Anggraini, kakak minta maaf dek," ia membalas panjang kali tinggi pertanyaan ku. Segera kucari namanya di civitas akademik nya, hanya ingin cek IPK nya saja.
"Owh.. kak Dina yang IPK nya 2,95 itu?? perhatian banget sama dia," aku kembali jutek. "Maaf banget lah dek. Gak maksud kakak tuh. Eh tapi perhatian bener kamu dek langsung ngeliat IPK nya," ia memakai emoticon smirk nya. Membuat ku tak bisa berkutit. "Emang aku perhatian kok. Kan Cadok," aku menjawab singkat lagi.
Blushhh. Emoticon peluk itu keluar lagi, seakan itulah jurus menaklukkan ku. Aku langsung berbaik sangka dengannya. Tak lagi marah bahkan petualangan dilanjutkan keesokannya. :) :)
#TBC yaaa
Tak terbiasa dengan sebuah ajakan.. Memang awalnya aku yang menawarkan.
Memang sudah menjadi kebiasaan ku sedikit rewel dalam memakai hijab. Terutama double segiempat, dengan memakai dalaman topi membuat kesan pipiku terlihat sedikit lebih kurus.
Bermalam-malam aku berharap bertemu dengan nya suatu saat.. mungkin saat sudah di perguruan tinggi. Tapi kurasa aku membutuhkan motivasi bisa jadi semangat dari nya.
Kubuka sedikit tas tangan ku. "Hem nampaknya sudah kupersiapkan semua." Aku tertawa kecil ketika sadar aku bangun lebih awal dari alarm di handphone ku. Kupersiapkan segala sesuatu sampai dikelas pun aku merasa kan getaran itu. Hal yang kutunggu pun akan tiba.. Jam kelas menunjukan pukul 09.50. Ya 10 menit lagi aku akan keluar kelas dan memulai interaksi paling baru dengan sesama makhluk sosial. 2 tahun sedikit lebih tua dariku, bertubuh ideal dan katanya dan nyatanya memang anak Akutansi di salah satu perguruan tinggi negeri di Palembang.
Kuajak kembali teman sebangku untuk menemani kedepan kantor dengan berbagai alasan pastinya. Agar tak terjadi salah paham banyak orang juga Allah. Ku genggam jemari, menguatkan mental ku. Niat baik ku memberikan oleh-oleh tidak boleh gagal. Sedikit tidak yakin dengan perjanjian di depan kantor ini. Namun semakin ramai semakin mengurangi salah paham bukan?? Pertama aku melihat ke arah ruang guru. Hal yang sama akan kulakukan kepada wali kelas. "Maam lagi pergi.." cukup mengecewakan. Dan nyata nya aku harus menunggu di balok kayu itu sendirian.. 1 menit terlewati dengan total 5 guru melintas. 2 orang anak kuliah berjalan mendekati ku, paras nya sering aku lihat namun syaraf otak ku sudah semakin banyak yang terputus. Sudah terlupakan, namun untunglah mereka duluan yang menegur ku. 7 menit terlewati lagi. waktu istirahat semakin berkurang yang artinya semakin berkurang pula interaksi nanti. Aku menghela nafas berat kembali melangkah ke arah utara dengan menjinjing tas bertuliskan I love bandung ku.
*********
Pandangan ku tertuju ke arah perpustakaan yang letaknya tak jauh dari kantor guru. "Kalo gak salah sih ada buku kedokteran atau sejenisnya deh di sini," aku mulai melangkahkan kaki ku memasuki perpustakan itu. Tak terlalu sempurna untuk ukuran sebuah perpustakaan sekolah, lumayan angker namun sangat nyaman untuk berelaksasi atau pun belajar. Ku dapatkan satu buku biologi kelas 3, tak terlalu menarik dari luar namun ah, sudahlah aku di sini hanya untuk meluapkan ke kesalanku sejenak. Aku mengintip melalui kaca yang untungnya memiliki riben hitam agar tak terlihat dari luar. Sedikit udara hangat menghiasi pipi ku. Ku buka-buka buku setebal 287 halaman itu, sedikit tertarik untuk kembali duduk di depan. Mutasi mungkin menarik pikir ku.
Getaran dari HP ku menunjukkan sebuah chat baru. "Arghh.. Pasti masih dirumah." Geram ku ketika membuka BBM. "Adik dimana? Kk sudah di depan kantor," PING PING dan semakin banyak. Kuberanikan diri untuk memunculkan kepalaku dari balik tembok perpustakaan. Sekitar jarak 200 m itu aku bisa melihat seseorang itu duduk di balok kayu tempat aku menunggu tadi. "Hemm.. Biarlah dia sendiri disitu dulu. Biar tau rasanya jadi aku tadi. Menunggu," aku terkekeh pelan. Kemudian segera memberikan kartu perpustakaan untuk meminjam buku biologi tadi. Aku bergegas memasukkan buku itu ke dalam tas jinjing ku. Kuberitahu ia melalui BBM bahwa aku sedang di perpustakaan. Namun sangat disayangkan sedang ceklist. Jadilah aku menunggu saat yang tepat untuk berpapasan dengannya.
Seusai aku berpamitan dengan pengurus perpustakaan, aku menoleh kearah kiri dan tak ada tanda ia berada disana. Sejurus kemudian aku mengarahkan pandanganku tepat di 50 m didepanku ia melintas dengan membawa almamater kuning nya berjalan kearah keluar. Aku yang masih sibuk membenahi sepatu ku yang tersangkut, langsung tersenyum lebar sekaligus malu. Bukan malu karna aku yang nampak kacau, tetapi malu akan pertemuan ini. Deg.. ia menoleh kearah ku sampai 3 kali untuk memastikan kalau itu adalah benar, aku hanya tersenyum dan menunggu ia berbalik arah. Ya dalam sekejap ia langsung berbalik arah menuju balok kayu di depan kantor guru itu. Setelah ia duduk, aku segera menyusul dengan perasaan tak karuan, melihat isi tas ku kemudian bertatap secara dekat dengannya untuk pertama kali.
******
Apa yang terjadi?? Ya kalian tau pasti orang-orang yang lagi LDR, atau
"Hey, Nih kak oleh-oleh nya," sapa ku terlebih dahulu. "Yeeee.. Makasih adek oleh-olehnya. Darimana emang?" "Ya darimana-mana lahh," aku mulai memutar memori otak ku untuk mencari bahan yang bisa dijadikan bahan obrolan. Dengan waktu yang semakin minim, ditambah dengan arus guru yang semakin berpeluang melihat kami sedang mengobrol, dan satu lagi alumni yang kenal dengan ku. "Kakak sudah kan ambil ijazah sama cap 3 jari?" "Sudah lah dek sudah dari dari lama kakak ambil."
Terlihat Bu Risa sedang mondar-mandir TU - Kantor, lumayan untuk menambah jadwal mengobrol. Tapi, otak ku sudah semakin menyempit dengan memikirkan nya. Ku biarkan ia memulai duluan. Kami mulai membicarakan tentang pelajaran, nilai kami yang sama-sama mendapat nilai B di bahasa Inggris, tentang universitas, alumni yang lulus, menyimpang ke guru, kemudian kembali pada janji makan bakso yang sudah ia janjikan tepat sebelum pengumuman SNMPTN. Ketika jam mulai menunjukkan 11.32 aku mulai risih dengan obrolan yang garing, renyah bahkan tipis banget itu. yang jelas itu sangat-sangat nano double triple bahkan tourism. "Adek ke kelas ya. Ntar ada Bu Risa?" "Mau adek duluan yang jalan, atau kakak duluan atau berbarengan?"
"Terserah di kakak saja," aku bergegas berjalan mendahului nya, karena kulihat tak ada tanda-tanda ia akan menjawab. Ia mengikuti ku dari belakang, namun aku baru sadar ia keluar melewati jalan ruang tamu bukan lurus. Yang berarti ia ke kanan dan aku tetap lurus. Kulihat ia menyembunyikan kantong oleh-oleh itu dibawah almamater nya bersamaan dengan wajah seperti tidak habis melakukan apapun.
Aku mempercepat langkah kaki ku menuju kelas ku yang terletak di deretan kelas luar. "Nah, pintunya ketutup nih. Apa ada guru?" aku langsung masuk dengan muka diam seribu bahasa kemudian dilanjutkan gelak tawa teman-teman sebarisan ku yang tak sengaja tadi melihat aku dan dia mengobrol. "Huftt.. untung aja. Udah 4 kali aku ketemu sama Bu Risa, untungya Bu Risa gak curiga." "Ciee.. Ciee.. Jemuran aja diangkat loh.. kok kamu digantung mulu?" Dyta menyindir ku dengan berbagai pepatah yang dibuatnya sendiri. "Aku juga pernah digantung tapi cuma 1 bulan gak sampe 1 tahun gini," ririn menambahkan. Pipiku semakin memerah. Aku menggeleng. "Sudah semakin baik kok hubungannya, semoga gak lost lagi," aku tersenyum kemudian langsung berbalik ketika Bu Risa masuk dan memberi tugas.
*******************
"Yu, ntar ajalah pulangnya. Gak ada orang dirumah aku," dyta meminta kepadaku untuk menemani nya mengobrol atau makan di taman. Deg. Aku melihat segerombolan kakak-kakak memakai almamater kuning sedang duduk-duduk di pinggiran batu taman. "Ah.. Tak tolong fotoin kakak itu," aku menyerahkan HP ke dyta. Dyta melihat sekeliling kemudian melanjutkan aksinya untuk mengambil foto dia dan seorang perempuan yang kuyakini adalah wanita yang sama ketika aku dan ia bertemu di kantin.
"Erghh.. iyaa modusin aja semua cewek," aku mengepal kan tangan ku. Sembari menemani Dyta makan, aku asyik mengamati nya dari jarak 200 M. Ia tepat di arah utara ku, sedang senang nampaknya. Teman-teman sejurusan nya pun mulai datang mengajak untung berselfie. Aku pun dari jauh turut diam-diam memfoto mereka. "Lumayann... Bisa ditunjukkan, dan meminta penjelasan dengan nya."
Dyta mengambil motornya sementara aku memandangi dia dari arah parkiran motor yang berada di seberang kiri nya. "Yu, naik lah," Dyta menstarter motornya dan perlahan aku menaiki nya. "Kak Rezi.. Duluan kak." Namun karna keasyikan mengobrol dengan temannya yang sekarang kutahu yaitu Dina. Kami berniat keluar dari pintu gerbang 1 namun itu tertutup, terpaksa kami kembali lagi dan harus melihat ia lagi, kemudian kakak-kakak yang lain. Arghh itu memalukan.
******************************
Ketika sampai di rumah aku memulai untuk menginterogasi nya, dimulai dengan jawaban ku yang sedikit cuek ketika ia bertanya jam berapa besok kami makan bakso. Kemudian kukirimkan foto tadi, dan ia mulai menjelaskan dari awal dengan nada meminta maaf. "Itu temen sejurusan kakak dek, sumpah cuma temen dek. Gak lebih. Namanya Dina Anggraini, kakak minta maaf dek," ia membalas panjang kali tinggi pertanyaan ku. Segera kucari namanya di civitas akademik nya, hanya ingin cek IPK nya saja.
"Owh.. kak Dina yang IPK nya 2,95 itu?? perhatian banget sama dia," aku kembali jutek. "Maaf banget lah dek. Gak maksud kakak tuh. Eh tapi perhatian bener kamu dek langsung ngeliat IPK nya," ia memakai emoticon smirk nya. Membuat ku tak bisa berkutit. "Emang aku perhatian kok. Kan Cadok," aku menjawab singkat lagi.
Blushhh. Emoticon peluk itu keluar lagi, seakan itulah jurus menaklukkan ku. Aku langsung berbaik sangka dengannya. Tak lagi marah bahkan petualangan dilanjutkan keesokannya. :) :)
#TBC yaaa
Komentar
Posting Komentar